SEMARANG, beritajateng.tv – Fenomena jasa sewa pacar merambah kota-kota besar. Dengan lebih terorganisir dan memiliki manajemen yang baik, jasa tersebut bisa membantu seseorang mendapatkan status maupun hanya sekedar menjadi pendengar.
Psikolog Semarang, Probowatie Tjondronegoro mengakui jika fenomena sewa pacar sebenarnya telah lama ada. Hanya saja, dulu belum terorganisir dan menjadi bisnis legal.
“Sebenarnya, fenomena sewa pacar ini sudah ada sejak lama. Dari saya masih muda juga sudah ada itu. Pinjam-meminjam sanak saudara, atau adik teman untuk menemani ke kondangan atau pura-pura jadi kekasih,” ujar Probo, sapaan akrabnya, Senin 29 Januari 2024.
BACA JUGA: Heboh Jasa Sewa Pacar Semarang, Sering Diorder Klien Kesepian, Syaratnya Dilarang Baper
Hanya saja, lanjutnya, dulu istilah meminjam atau sewa pacar ini belum terorganisir dan menjadi bisnis dengan imbalan uang.
“Contohnya, pinjem adikmu ya, buat nemenin ke nikahan. Pinjem anak tetangga, terus diaku-aku pacar. Karena kalau gandeng cewek kan keren, itu juga bisa menaikkan harga diri,” katanya.
Apalagi, bisnis jasa sewa pacar saat ini sudah ada manajemen yang menaungi, bahkan penyewa harus mengirimkan foto KTP.
“Kalau ada KTP akan lebih bagus, bisa dipertanggungjawabkan,” lanjutnya.
Probo menyebut, alasan seseorang tertarik untuk sewa pacar, tidak lain karena ingin menunjukkan harga diri dan kebanggaan.
“Kebanyakan yang sewa pacar pasti pasih muda. Hal ini secara psikologis untuk memuaskan egonya. Untuk pamer dan menunjukkan rasa bangganya bahwa memiliki kekasih. Ini kebutuhan remaja karena ia merasa bangga kalau mempunyai pasangan. Wes payu,” terangnya.
Head of Marketing and Public Relations Rumah Sakit ST Elisabeth Semarang ini tidak mempermasalahkan dengan adanya jasa sewa pacar ini. Ia menilai, akan lebih baik jika bisnis ini memiliki manajemen yang baik dan terorganisir.
“Saling menguntungkan. Ada orang butuh kekasih atau pacar untuk menemani ke wisuda atau nikahan mantan. Boleh saja, jadi tidak asal comot. Ini legal,” ujarnya.
Jasa sewa pacar marak, bentuk aktualisasi
Probo melihat fenomena ini secara positif, sebagai wadah bagi orang-orang yang memiliki kebutuhan harga diri, aktualisasi, dan kebutuhan pamer.
“Klien pasti memilih yang cakep atau good looking untuk bisa ia gandeng. Seperti menemani saat wisuda atau pernikahan mantan. Ini kan sama-sama menguntungkan kalau dari segi bisnis,” jelas Probo.
Meski demikian, Probo justru menyoroti sisi negatif dari bisnis sewa pacar yang melalui telepon, misal sekedar menemani ngobrol maupun sleep call.
“Kalau lewat telepon, saya malah takutnya disalahgunakan. Karena kalau kita ngobrol dengan seseorang pasti cari yang cocok. Inginnya katarsis atau unek-unek bisa kita ceritakan. Dan kalau saya, pasti cerita ke orang yang saya percaya,” imbuhnya.
Menurutnya, akan lebih baik jika hanya ingin mencurahkan katarsis bisa ke lembaga terpercaya.
“Saran saya mending healing sendiri atau menulis dalam catatan, mengeluarkan katarsis dan membuang lembar demi lembar catatan. Itu lebih baik. Terkadang ada orang yang tidak bisa ngomong apa-apa. Bisa melakukan metode itu,” terangnya.
Selain itu, Probo juga mengaku khawatir jika kencan lewat telepon pada jasa sewa pacar justru akan menjurus ke hal negatif.
“Kalau ada fantasi seksual itu yang nggak beres. Takutnya ada penyimpangan ke arah negatif. Jadi kita harus berhati hati untuk pakai telepon,” sebutnya. (*)
Tim beritajateng.tv





