“Bisa lokal, bisa nasional. Karena kan jaringan itu. Jadi rantai pasok itu kayak terputus. Padahal dari pemerintah sudah banyak melakukan intervensi,” ujarnya.
Justru, kata dia, intervensi yang terlalu sering justru berpotensi membuat mekanisme pasar tidak sehat. “Setiap banyak intervensi sih semakin tidak sehat sebetulnya,” tambah Haerudin.
Saat disinggung apakah pemerintah belum efektif mengendalikan spekulan maupun tengkulak, ia menyebut perlu ada peningkatan kinerja.
“Kalau dikatakan belum ya enggak lah. Perlu ditingkatkan gitu ya,” pungkasnya.
BPSK Nilai Monitoring Tak Cukup, Pemerintah Harus Kuasai Stok Bahan Pangan
Terpisah, Wakil Ketua BPSK Kota Semarang, Ngargono, menilai pengawasan atau monitoring harga saja tidak cukup untuk mengendalikan lonjakan harga di pasar.
“Pemerintah kalau cuma monitoring itu ya percuma menurut saya. Bahwa monitor setiap hari ya tetap enggak akan ada perubahan,” kata Ngargono.
Menurutnya, pemerintah harus memiliki dan menguasai stok barang pokok jika ingin serius menekan pergerakan harga dan membatasi ruang gerak spekulan maupun tengkulak.
“Maka satu-satunya jalan ya pemerintah harus menguasai stok, minimal yang dia bisa produksi. Misalnya Bulog punya beras, nah itu paling tidak spekulan agak berpikir lah kalau dia mau bermain-mainin beras. Karena pemerintah punya bisnis menjual cadangan, punya tandingan,” jelasnya.
BACA JUGA: Harga Sembako di Pasar Sido Makmur Blora Melonjak, Cabai Merah Tembus Rp45 Ribu per Kg
Selain itu, ia juga menyoroti komoditas gula yang BUMN kelola melalui pabrik gula milik negara.
“Gula itu kan PTP (Perusahaan Terbatas Perkebunan), BUMN-nya pemerintah punya pabrik gula. Nah, itu mestinya jangan tergesa-gesa lelang, karena begitu habis musim giling lelang, harga masih rendah; yang beli investor atau distributor besar karena punya duit,” ujar dia.
Menurut Ngargono, praktik tersebut berpotensi memicu kenaikan harga saat stok di pasar menipis. “Nanti pada saat tidak musim giling, baru gelontorkan gula ini ke pasar. Nah, akhirnya harga sudah terlanjur tinggi, kasihan konsumen,” katanya.





