Untuk mengatasi rendahnya serapan tersebut, Pemprov Jawa Tengah kini menyiapkan kesepakatan bersama antara pemerintah, asosiasi peternak, koperasi, dan pelaku usaha yang terlibat dalam rantai pasok MBG.
Melalui kesepakatan tersebut, dapur MBG akan ԁidorong memprioritaskan pembelian bahan baku dari Jawa Tengah, khususnya komoditas telur, ayam, dan ikan.
“Ke depan nanti akan kami coba, kami ada kesepakatan bersama nanti dengan asosiasi peternak dan koperasi-koperasi yang ada di Jawa Tengah itu membikin sebuah kesepakatan bahwa SPPG ini harus menyerap kebutuhan bahan pokok itu dari Jawa Tengah,” kata Gus Yasin.
Ia menegaskan kebutuhan pangan utama untuk dapur MBG seharusnya dapat ԁipenuhi dari hasil produksi daerah sendiri. “Telur, ayam, dan ikan. Ini harus membeli di sini,” tegas dia.
Gus Yasin menuturkan, rendahnya serapan peternak lokal saat ini masih membuka kemungkinan adanya pasokan bahan baku yang masuk dari luar Jawa Tengah.
BACA JUGA: Ketua DPRD Jateng Bantah Terlibat 26 Nama yang Terkait Masalah MBG
“Masih ada kemungkinan supplier-nya itu ngambilnya dari luar Jawa Tengah. Begitu juga sebaliknya kemungkinan juga dari Jawa Timur mengambil ke peternak yang lain,” ungkapnya.
Berangkat dari hal tersebut, Pemprov Jawa Tengah ingin memastikan manfaat ekonomi program MBG benar-benar ԁirasakan masyarakat setempat, mulai dari petani, peternak, nelayan, hingga koperasi daerah.
“Nah, ini yang harus kita pastikan, kita atur bahwa ini harus benar-benar para petani, nelayan, dan koperasi dari lokal itu benar-benar bisa terserap supaya tidak melebar,” katanya.
Ia menilai, setiap daerah idealnya menyerap komoditas pangan dari wilayahnya sendiri. Menjawab apakah nantinya akan ada larangan mengambil pasokan dari provinsi lain, Gus Yasin menegaskan kesepakatan yang tengah pemerintah susun mengarah pada prioritas penyerapan produk dari Jawa Tengah.
“Jadi misal nanti di Kabupaten Banjarnegara ya harus ngambil telurnya, harus ngambil sayurnya dari Banjarnegara sendiri. Kita kesepakatannya adalah untuk mengambil dari Jawa Tengah dengan per provinsi,” terang Gus Yasin.





