BLORA, beritajateng.tv – Memasuki tahun ajaran baru, jumlah siswa di Sekolah Dasar (SD) Negeri 4 Banjarejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah ini minim murid.
Meski minim murid, SD di Kecamatan Banjarejo ini tetap bertahan walau sempat menolak regrouping. Hal itu lantara beragam alasan, mulai faktor geografis hingga soal populasi.
Biasanya, orang tua siswa yang biasa mendampingi anak-anaknya pertama masuk sekolah. Akan tetapi, pemandangan tersebut tak terlihat di SDN 4 Bandarejo. Suasana sepi sebenarnya sudah tampak dari jauh.
Tak ada rumah warga di sepanjang delapan kilometer jalan itu. Hanya pohon jati, mahoni dan tumbuhan lain. Jalan tengah hutan itu satu-satunya akses menuju lokasi.
BACA JUGA: Unik dan Gak Sok Asyik, Ini 5 Contoh Pesan dan Kesan untuk Kakak OSIS Pendamping MPLS 2024
Tak hanya itu, akses makin menantang lantaran sepanjang jalan hanya batu, debu, dan kerikil. Tak hanya itu, ada titik jalan yang bergelombang.
Beruntung, ini musim kemarau. Andai musim hujan, situasinya bisa lebih parah. Pantauan di lapangan saat tiba di lokasi ada sekitar dua puluhan siswa yang bermain di pelataran.
Mereka ternyata gabungan dari berbagai kelas. Tak hanya kelas satu saja. Padahal satu kelas jumlah rombongan belajarnya 28 siswa.
Di dalam masing-masing kelas, situasinya sepi. Misalnya di kelas V hanya ada empat meja. Satu meja dilengkapi bangku panjang yang bisa terisi dua siswa.
Artinya di kelas tersebut siswanya tak lebih dari 8. Situasi demikian juga terjadi di kelas-kelas lain. Ruang kelas lengang. Hanya 3-5 meja. Dengan kursi panjang.
Tanggapan Pihak SDN 4 Banjarejo
Khoiruddin Ulin Nuha Kepala Sekolah SDN 4 Banjarejo mengatakan semua siswa dari kelas 1-6, jumlahnya hanya sekitar 30 saja. Ia menyebut kaitannya dengan PPDB kali ini, sebagaimana data di Dinas Pendidikan memang hanya tercatat dua siswa untuk kelas satu.
“Dua itu karena setahun lalu sudah kelas satu, kemudian tahun ini masuk Dapodik,” paparnya.
Menurutnya, sebenarnya secara total untuk kelas 1 tahun ini ada 11 siswa. Selain dua siswa yang masuk dapodik juga ada sembilan lainnya sehingga total 11.
“Yang usia sekolah enam siswa. Dan yang lima siswa kategori titipan. Kami kategorikan titipan karena di sini gak ada TK dan PAUD. Jadi tidak bisa masuk dapodik karena umur kurang,” imbuhnya.
Dari enam siswa itu, kemudian dirinci. Dua siswa yang sudah masuk Dapodik, karena siswa tahun lalu. Kemudian, tiga siswa sebenarnya juga siswa tahun lalu yang dikategorikan juga titipan.
Dan kemudian dimasukkan kelas satu lagi tahun ini. Sementara satu adalah siswa hasil PPDB tahun ini.
“Yang lima lainnya dapat tahun ini namun masuk titipan karena belum cukup umur. Sesuai dapodik usia anak sekolah harus lebih dari enam tahun. Namun lima ini tetap diikutkan SD agar bisa mengikuti pelajaran,” tambahnya.
Kepala sekolah yang sudah 13 tahun mengabdi di SDN 4 Banjarejo itu menyebut jika ditotal jumlah siswa di sekolah tersebut ada 37. Kemudian bertambah dengan titipan, sehingga total 42.
“Rata-rata per kelas gak sampai 10. Hanya 4, 6 sampai 7 saja,” katanya.
Faktor Minimnya Peserta Didik
Menurutnya ada beberapa faktor yang menyebabkan situasi itu terjadi. Pertama karena faktor populasi. Di Dukuh Banyuurip itu jumlah KK hanya 150. Itu pun terdiri dari usia muda dan tua.
Berikutnya adalah faktor geografis. Secara geografis, lokasi dukuh tersebut terisolir di tengah hutan. Jauh dengan daerah lain. Bahkan dengan dukuhan terdekat berjarak 7 kilometer.
“Akses keluar jauh. Dari dukuh luar ke sini juga jauh,” tuturnya.
Menurutnya, kondisi tersebut juga terjadi di SDN 5 Banjarejo yang terletak di dukuhan sebelah. Tepatnya di Dukuh Temetes.
SDN 4 Banjarejo dan SDN 5 Banjarejo sama-sama kurang dari 60 siswa. Akhirnya, kedua sekolah itu dua tahun lalu hendak di-regrouping.
Hanya saja batal karena secara geografis tak memungkinkan. Selain itu, akses jalan dari dua lokasi yang tak memadai. Bahkan sangat memprihatinkan.
“Maka regrouping gak jadi. Sehingga ya sekolah ini tetap jalan meski sedikit,” tambahnya. (*).
Editor: Andi Naga Wulan.





