SEMARANG, beritajateng.tv – Pemerintah Kota Semarang menargetkan penataan kabel udara melalui program ducting atau penanaman jaringan kabel ke dalam tanah bisa selesai pada akhir tahun 2026.
Tujuannya, agar sejumlah ruas jalan protokol Kota Semarang bisa steril dari kabel yang selama ini bergelantungan di udara.
Program ducting ini menjadi bagian dari upaya memperbaiki wajah kawasan perkotaan, terutama ruas-ruas jalan yang masuk kawasan strategis dan pusat aktivitas Kota Semarang.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian (Kominfo) Kota Semarang, Didik Dwi Hartono mengatakan, sejumlah ruas jalan telah memiliki jaringan ducting. Namun, proses pemindahan seluruh kabel belum selesai karena jaringan tersebut milik banyak operator.
BACA JUGA: Walikota Semarang Perintahkan Diskominfo Cabut Surat Penonaktifan Internet Monitoring CCTV, Pastikan Jaringan Dipulihkan
“Ducting sudah ada di beberapa ruas jalan ini. Kita tinggal karena ini butuh kerja sama dengan para operator. Memang Kominfo tidak bisa sendiri karena menyangkut beberapa pihak,” kata Didik.
Saat ini, setidaknya delapan ruas jalan telah masuk dalam jaringan ducting. Beberapa di antaranya merupakan jalan protokol yang memiliki aktivitas tinggi.
“Yang sudah ada itu Jalan Pemuda, jalan Pandanaran, jalan Mataram dan sebagainya. Ada delapan ruas jalan yang sudah,” ujarnya.
Meski infrastrukturnya sudah tersedia, keberadaan kabel udara belum seluruhnya hilang. Pemkot Semarang masih harus menyatukan langkah dengan operator agar kabel yang berada di atas jalan dapat di pindahkan ke jalur bawah tanah.
“Jadi itu kita rampungkan dulu yang itu. Masih ada yang di udara juga. Karena itu menyangkut beberapa operator,” jelas Didik.
Segitiga Emas Jadi Target
Pemkot Semarang memiliki target lebih besar dalam penataan jaringan utilitas. Kawasan yang terkenal sebagai segitiga emas Kota Semarang rencananya akan menjadi kawasan yang semakin steril dari kabel udara.
“Iya, rencananya seperti itu. Tujuannya,” kata Didik.
Namun, target tersebut tidak bisa tercapai hanya dengan membangun ducting. Pemerintah harus berhadapan dengan persoalan teknis dan kesiapan masing-masing operator.
Didik mengatakan setiap operator memiliki kondisi dan kemampuan keuangan yang berbeda. Situasi itu membuat proses pemindahan kabel tidak dapat berjalan secara serentak.
“Ductingnya sudah. Cuma ini menyangkut beberapa operator dan kemampuan keuangan mereka berbeda-beda. Jadi enggak bisa,” ujarnya.
Menurut dia, persoalan utama bukan semata-mata pekerjaan fisik untuk menurunkan kabel. Pemkot harus memastikan seluruh pemilik jaringan siap memindahkan kabel mereka ke infrastruktur bawah tanah yang telah tersedia.
“Kendalanya itu karena kabel itu milik beberapa operator, tidak hanya satu orang,” katanya.
Karena itu, Pemkot Semarang mendorong pertemuan dan koordinasi bersama para operator. Pemerintah ingin memastikan proses penataan berjalan dalam satu skema sehingga tidak ada operator yang tertinggal.
“Perlu duduk bersama, perlu bareng-bareng karena kemampuan mereka berbeda-beda. Ada yang sudah siap, ada yang belum siap,” tegas dia.
Penataan kabel menjadi pekerjaan penting karena jaringan udara yang semrawut tidak hanya berkaitan dengan estetika kota. Kabel yang menumpuk di sepanjang jalan juga menjadi bagian dari persoalan penataan utilitas perkotaan. (*)





