Gaya Hidup

Serial “13 Reasons Why” Disebut Picu Bunuh Diri, Noriyu: Remaja Lebih Rentan Terhadap Media

×

Serial “13 Reasons Why” Disebut Picu Bunuh Diri, Noriyu: Remaja Lebih Rentan Terhadap Media

Sebarkan artikel ini
13 reasons why
Katherine Langford sebagai Hannah Baker di serial 13 Reasons Why. (IMDb)

SEMARANG, beritajateng.tv – Serial barat berjudul “13 Reasons Why” ternyata membawa efek membahayakan bagi penontonnya. Hal ini diungkapkan oleh dokter spesialis kejiwaan Nova Riyanti Yusuf yang juga merupakan Direktur Utama Pusat Kesehatan Jiwa Nasional Rumah Sakit Jiwa dr. H. Marzoeki Mahdi, Kota Bogor, Jawa Barat.

Serial yang terinspirasi dari novel berjudul Thirteen Reason Why karya Jay Asher itu menceritakan tentang seorang gadis remaja bernama Hannah yang bunuh diri dan meninggalkan rekaman-rekaman tentang 13 alasan mengapa ia memutuskan mengakhiri hidupnya.

Sebetulnya, serial ini memiliki beberapa pesan moral seperti memperlakukan siapapun dengan baik, membantu teman, hingga tidak menghakimi orang lain secara sembarangan. Namun sayangnya, tontonan ini malah meningkatkan meningkatkan angka pencarian di Google tentang “bagaimana cara bunuh diri“.

“Film “13 Reasons Why” sangat gamblang menampilkan cara bunuh diri yang tertampilkan oleh karakter film tersebut sehingga banyak yang ter-trigger,” jelasnya saat menjadi pembicara dalam Media Briefing PB IDI, Senin, 11 Desember 2023.

Noriyu sapaan akrabnya mengungkapkan, setelah serial “13 Reasons Why” tayang, terjadi peningkatan sebanyak 28,9 persen dalam bunuh diri di kalangan remaja Amerika Serikat usia 10 sampai 17 tahun. Hal tersebut sekaligus menunjukkan bahwa remaja sangat rentan terhadap media.

Ia menambahkan, remaja memang memiliki risiko tinggi dalam melakukan bunuh diri. Menurut American Academy of Child and Adolescent Psychiatry, kata Noriyu, pada usia-usia remaja, mereka cenderung mempunyai beberapa karakter. Mulai dari risk-taking, omnipotence, immortality, hingga abstract.

BACA JUGA: Bermunculan Kasus Pelajar Bunuh Diri dan Menyakiti Diri Sendiri, Begini Tanggapan Yoyok Sukawi

Maka dari itu, penting untuk mengidentifikasi remaja yang paling berisiko sebelum perilaku tersebut menjadi serius.

“Yang pertama identifikasi faktor risikonya, melihat warning signs-nya. Karena sebetulnya banyak tanda-tanda, jangan cuma berpikir caper aja di media sosial,” imbuhnya.

4 dimensi penyebab bunuh diri pada remaja

Di sisi lain, Noriyu turut memaparkan bahwa angka kematian global berdasarkan usia terjadi pada usia 25 tahun. Hal tersebut membuktikan bahwa upaya untuk melakukan pencegahan bunuh diri harus dilakukan jauh sebelum usia 25 tahun.

Selain itu, ide bunuh diri pada perempuan cenderung lebih tinggi daripada laki-laki. Namun, angka percobaan bunuh diri malah lebih banyak pada laki-laki.

Adapun menurut penelitiannya, Noriyu menyebut terdapat 4 dimensi yang mendorong remaja untuk bunuh diri. Antara lain loneliness, burdensomeness, belongingness, dan hopelessness.

“Di antara loneliness atau kesepian, burdensomeness atau perasaan menjadi beban, belongingness atau ingin menjadi bagian dari sesuatu hal, hopelessness lah yang menjadi salah satu indikator kuat pemikiran bunuh diri,” ungkapnya.

Meski demikian, ia meminta untuk semua pihak agar meyakini bahwa bunuh diri merupakan perilaku yang bisa dicegah. Selain itu, bunuh diri juga merupakan perilaku yang sangat erat kaitannya dengan kesehatan masyarakat.

BACA JUGA: DP3A Kota Semarang Beri Pendampingan Psikologi dan Bantuan Hukum Korban Kekerasan Seksual

“Pencegahan bunuh diri bisa preventif seperti primer dengan melakukan screening sesuai UU Kesehatan, atau dengan dengan penapisan ide bunuh diri, dan pencegahan sekunder dengan intervensi agar ide tidak menjadi percobaan bunuh diri,” katanya.

Noriyu mengimbau kepada siapapun yang memiliki keluhan dapat menghubungi Hotline D’Patens24 melalui nomor 0811 979 10000 atau melalui pesan ke nomor 0813 8007 3120.(*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp