SEMARANG, beritajateng.tv – Di tengah dominasi gawai dan permainan digital, Maerakaca Dolan Fest menjadi ruang temu antara tradisi dan generasi muda.
Festival ini menghadirkan kembali kegembiraan sederhana dari dolanan tradisional yang pernah lekat dengan masa kecil banyak orang.
Bertempat di Grand Maerakaca Semarang, Maerakaca Dolan Fest merupakan hasil kolaborasi Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang dengan pengelola Grand Maerakaca.
Konsep permainan tradisional dikemas kreatif, kompetitif, dan dekat dengan selera generasi Z, Minggu, 18 Januari 2026.
Sejak pagi, kawasan Grand Maerakaca dipenuhi peserta yang antusias mengikuti berbagai tantangan permainan.
Mulai dari lompat tali, ular tangga, kelereng, dakon, gasing, hingga hula hoop. Seluruh permainan hadir untuk menghidupkan kembali nilai kebersamaan dan keceriaan khas budaya lokal.
BACA JUGA: Booked and Busy! Ini 14 Event Seru di Semarang Januari 2026, Ada Lomba Futsal-Kelas Kecantikan
Ketua Pelaksana Maerakaca Dolan Fest, Luthfi Khairina Mazaya, mengatakan festival ini lahir dari keprihatinan terhadap semakin jauhnya generasi muda dari permainan tradisional.
“Melalui Maerakaca Dolan Fest, kami ingin mengenalkan kembali dolanan tradisional agar generasi muda lebih mengenal dan mencintai budaya lokal,” ujarnya.
Ia menjelaskan, permainan tidak hanya disajikan sebagai hiburan, tetapi juga dirancang menjadi kompetisi yang menantang dan menyenangkan.
Salah satunya adalah lomba Photo Hunt, yang mengajak peserta mengeksplorasi sudut-sudut Grand Maerakaca dan membagikan hasilnya di media sosial.
“Generasi muda sekarang suka hunting foto. Dari situ kami menggabungkan budaya dengan digitalisasi agar lebih relevan,” jelasnya.
Selain Photo Hunt, panitia menghadirkan kompetisi Rerangka Cerita, yakni permainan menebak potongan legenda nusantara.
Ada pula Tiga Tapak, permainan yang terinspirasi dari konsep populer namun dengan modifikasi unsur dolanan tradisional.
Tantangan terakhir, Sapa Nemokake, mengajak peserta mencari maskot Grand Maerakaca yang hanya bisa ditemukan oleh satu tim terbaik.
Sebanyak 21 tim atau 63 peserta ambil bagian dalam festival ini. Peserta berasal dari pelajar SMA hingga mahasiswa berbagai perguruan tinggi di Kota Semarang, termasuk mahasiswa Udinus.
Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi Udinus Semarang, Lisa Mardiana, menyebut Maerakaca Dolan Fest merupakan bagian dari pembelajaran berbasis praktik bagi mahasiswa semester lima.
“Kegiatan ini menjadi living laboratory bagi mahasiswa. Mereka belajar langsung di lapangan, mulai dari perencanaan event hingga pelaksanaan,” katanya.
Menurut Lisa, Grand Maerakaca jadi lokasi event karena memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata budaya. Namun masih membutuhkan pendekatan kreatif untuk menarik minat generasi muda.
“Melalui event seperti ini, mahasiswa belajar komunikasi, koordinasi, lobbying, dan kerja tim. Antusiasme peserta hari ini menunjukkan bahwa budaya yang hadir dengan cara menarik,” pungkasnya. (*)
Editor: Elly Amaliyah





