Tidak berhenti sampai di situ, ia juga melontarkan pertanyaan satire yang menyasar para demonstran maupun aparat kepolisian yang berjaga di sekitar lokasi.
“Adakah yang jadi boti di sini?” tanyanya yang seketika memancing riuh sorakan dari para mahasiswa.
Bawa Panca Tuntutan Rakyat, Ribuan Massa Aksi Mahasiswa Jadikan Jelangkung Simbol Kemarahan
Massa aksi membawa lima poin tuntutan utama yang mereka sebut sebagai Pantura atau Panca Tuntutan Rakyat.
Presiden Mahasiswa BEM KM Unnes, Septia Linasari, menjelaskan tuntutan pertama yakni mahasiswa mendesak pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) dan menstabilkan nilai tukar rupiah.
Kedua, massa menuntut pemerintah mengembalikan fungsi Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polri ke ranah yang sebenarnya.
Ketiga, mahasiswa meminta pemerintah mengevaluasi total program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang mereka anggap sekadar program populis.
Keempat, massa menuntut pemerintah mengembalikan tanah kepada rakyat. Kelima, mereka mendesak pemerintah menghentikan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) pada era pemerintahan Prabowo-Gibran.
BACA JUGA: Demo Mahasiswa di Kantor Gubernur Jateng, BEM Undip Tuntut Evaluasi MBG-Hak Petani
Septia menyebut unjuk rasa kali ini melibatkan sekitar 21 elemen, bukan hanya dari kalangan mahasiswa tetapi juga menyertakan organisasi ekstra kampus. Ia memperkirakan jumlah peserta yang turun ke jalan mencapai lebih dari seribu orang.
“Kemarin undangan terbuka cuma untuk satu Jawa Tengah. Tapi memang yang memaksimalkan karena mobilisasinya mungkin susah ya, jadi Semarang. Tapi tadi saya lihat juga ada teman-teman dari wilayah Banyumas Raya juga,” ujar Septia.
Dalam menyuarakan amarahnya, para demonstran turut membawa berbagai atribut perlawanan, salah satunya boneka jelangkung. Septia menyebut teman-teman lembaga mahasiswa yang menginisiasi penggunaan simbol-simbol tersebut.
“Biasanya teman-teman Undip membawakan jelangkung yang nantinya mungkin akan ada prosesi simbolis berupa pembakaran atau apa gitu. Itu sebagai simbol bahwasanya kita memang sedang marah,” bebernya.





