Gaya Hidup

Sineas Muda Semarang Dapat Bantuan Produksi Film Rp50 Juta dari Pemkot

×

Sineas Muda Semarang Dapat Bantuan Produksi Film Rp50 Juta dari Pemkot

Sebarkan artikel ini
Sineas Muda Semarang Dapat Bantuan Produksi Film Rp50 Juta dari Pemkot
Workshop dan Mini Lab Lawang Sewu Short Film Festival (LSSFF) 2025 di Kota Hotel Semarang. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Pemerintah Kota Semarang terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung industri kreatif, khususnya perfilman lokal.

Melalui ajang Workshop dan Mini Lab Lawang Sewu Short Film Festival (LSSFF) 2025, Walikota Semarang Agustina Wilujeng memberikan dukungan berupa bantuan produksi film senilai Rp50 juta kepada pemenang Lomba Ide Cerita.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari di Hotel Kotta Semarang berlangsung seru, Asisten Administrasi Umum, Wing Wiyarso Poespojoedho, mewakili Walikota Semarang menutup acara.

Dalam sambutannya, Agustina menegaskan bahwa program ini bukan sekadar pelatihan, tetapi juga ruang bagi sineas muda untuk menumbuhkan kreativitas dan mengembangkan ide menjadi karya nyata.

“Kami telah melihat bagaimana ide, ketika dibimbing dengan ilmu dan semangat kolaborasi, bisa tumbuh menjadi cerita yang kuat,” ujar Agustina.

Ia menjelaskan bahwa bantuan produksi film senilai Rp50 juta kepada pemenang bukan hanya sekadar hadiah. Tetapi bentuk kepercayaan agar karya mereka benar-benar dapat terwujud di layar lebar.

“Bantuan ini adalah kepercayaan. Kami ingin ide-ide para sineas muda hidup, bukan hanya berhenti di naskah,” tegasnya.

BACA JUGA: Video Tur Lorong Bawah Tanah Lawang Sewu Diserbu Pengunjung

Walikota juga menekankan pentingnya membangun ekosistem film lokal yang berkelanjutan di Kota Semarang. Menurutnya, film dapat menjadi wadah ekspresi sekaligus media untuk memperkenalkan Semarang melalui perspektif anak muda.

Ia mencontohkan, banyak festival film dunia seperti Sundance Film Festival di Amerika Serikat dan Busan Short Film Festival di Korea Selatan yang berawal dari komunitas kecil dan ruang belajar sederhana.

“Saya percaya, Semarang bisa menuju ke sana. Kita tidak kekurangan talenta, yang mereka butuhkan hanyalah ruang, kesempatan, dan keberanian untuk mencoba,” katanya penuh optimisme.

Agustina juga berpesan kepada para peserta agar terus berkarya tanpa takut dengan keterbatasan. Ia menilai, film yang menyentuh hati tidak selalu lahir dari peralatan mahal, tetapi dari kepekaan dan ketulusan pembuatnya.

“Setiap sudut kota, setiap kisah kecil di sekitar kita bisa menjadi cerita besar jika di ceritakan dengan hati,” ujarnya.

Ia turut mengapresiasi seluruh pihak yang berperan dalam suksesnya kegiatan ini, mulai dari panitia LSSFF, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, mentor, hingga para peserta.

“Semoga langkah ini menjadi pijakan menuju ekosistem film yang lebih matang. Kami ingin Semarang bukan hanya menjadi lokasi syuting, tapi juga rumah bagi para pencerita,” tutup Agustina.

Dalam kegiatan tersebut, Iwan Resdiyanto terpilih sebagai pemenang Lomba Ide Cerita dengan karyanya berjudul “The Last Swing.”

Film ini mengisahkan perjuangan Arum (11), seorang anak yang mengumpulkan dan menjual bola golf bekas demi membayar kegiatan sekolah. Namun, nasib tragis menimpanya ketika bola golf terakhir yang ia temukan justru menghancurkan mimpinya dengan cara yang penuh ironi. (*)

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp