Setelah proses pendanaan ini, Hangry menargetkan ekspansi secara regional mulai tahun 2024. Selain memperluas dan menambah lebih banyak outlet secara nasional serta mengakuisisi brand-brand kuliner unggulan lainnya, strategi Hangry juga mencakup pembangunan brand-brand secara in-house untuk menjangkau berbagai target pelanggan. Sejak 2019 hingga kini, Hangry telah membuka lebih dari 70 outlet dengan pendapatan (revenue) yang tumbuh lebih dari 23 kali lipat.
Selain itu, Hangry telah menjual lebih dari sepuluh juta porsi makanan dan minuman selama 2019-2021. Kini, Hangry menjual lebih dari satu juta porsi produk per bulan dari empat brandnya. Pencapaian ini akan terus meningkat seiring bergabungnya Accha ke keluarga Hangry.
“Menambahkan brand baru selalu menjadi bagian dari rencana kami, karena konsep Hangry adalah perusahaan multi-brand dan multi-channel. Baik itu membangun brand baru atau mengakuisisi brand lain, kami akan mengelola brand-brand yang dapat menjadi juara dalam kategorinya dan siap secara global,” jelas Abraham.
Menurut dia, investor baru tersebut memiliki kekuatan sendiri untuk mendukung Hangry dalam mempercepat bisnisnya.
Misalnya Journey Capital Partners dengan keunggulan dalam strategi bisnis dan aspek operasional, Orzon Ventures dengan pengalaman kuat pada bisnis F&B di kawasan ASEAN melalui restoran populer mereka di Thailand, dan Sassoon Investment Corporation (SassCorp) dengan jaringan F&B yang luas, yaitu kedai kopi terkemuka di Singapura yang semuanya akan berperan penting dalam tiap perkembangan Hangry ke depannya.
Kemudian, Hangry juga tetap melanjutkan dan memperkuat kerja sama dengan Alpha JWC Ventures yang sudah mendukung Hangry sejak awal.
Managing Partner Journey Capital Partners, Choo Weng Kin mengatakan, pihaknya sangat yakin Hangry memiliki semua komponen yang tepat untuk menjadi yang terdepan di Indonesia maupun di kawasan regional.





