Sumanto menjelaskan, langkah antisipasi menjadi penting karena perubahan pola musim yang membuat periode kemarau berlangsung lebih panjang dari perkiraan. Kondisi tersebut menuntut kesiapan lebih awal, bukan hanya mengandalkan pola penanganan yang selama ini pihak terkait lakukan.
“Sekarang musimnya kemarau kering yang lama. Tidak seperti dulu, bulan April-September biasanya kemarau, September-April musim penghujan. Perlu ada langkah-langkah terkait dengan potensi kebakaran yang terjadi hampir setiap tahun,” tandasnya.
Kebakaran Gunung Lawu, antisipasi perlu koordinasi lintas instansi
Ia mendorong agar perencanaan pemerintah lakukan bersama pihak-pihak yang memiliki kewenangan atas kawasan hutan Gunung Lawu, termasuk pemerintah pusat dan Perum Perhutani. Dukungan anggaran dan pembagian peran penting agar rencana pencegahan tidak berhenti sebagai usulan.
BACA JUGA: Sumanto: Sinergi Lintas Instansi Kunci Penanganan Kebakaran Gunung Lawu
“Sebagian besar wilayahnya ini milik Perhutani. Kalau tidak ada perencanaan, setahun ke depan nanti terjadi kekeringan akan susah lagi. Karena api yang kecil itu akan menjadi teman, kalau besar menjadi melawan kita semuanya,” kata Sumanto.
Sumanto mengingatkan, penanganan kebakaran Gunung Lawu bukan hanya berkaitan dengan keselamatan kawasan hutan. Gunung tersebut juga mempunyai fungsi ekologis sebagai salah satu sumber air bagi kawasan bawah Kabupaten Karanganyar.
“Kerusakan ekosistem akibat kebakaran akan membawa dampak lebih luas terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat. Karena itu, upaya pencegahan harus menjadi bagian penting dari pengelolaan kawasan Gunung Lawu,” ujarnya.
Ikut hadir dalam Rapat Koordinasi tersebut, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, Bupati Karanganyar Rober Christanto, Wakil Bupati Adhe Eliana, Kapolres Karanganyar AKBP Arman Sahti, Dandim 0727/Karanganyar Letkol Kav Dhanang Prasetyo Kurniawan, serta Kepala Pelaksana BPBD Karanganyar Sugiharjo. (*)
Editor: Ricky Fitriyanto





