Jateng

Sumanto Gelar Wayang Kulit Songsong Tunggul Naga, Beri Ruang Pelestarian Budaya di Karanganyar

×

Sumanto Gelar Wayang Kulit Songsong Tunggul Naga, Beri Ruang Pelestarian Budaya di Karanganyar

Sebarkan artikel ini
Ketua DPRD Jateng Sumanto
Ketua DPRD Jateng Sumanto konsisten menggelar pentas wayang kulit di kediamannya di Kabupaten Karanganyar. (Humas DPRD Jateng)

KARANGANYAR, beritajateng.tv – Ketua DPRD Jawa Tengah Sumanto kembali menggelar pagelaran wayang kulit di kediamannya, Desa Suruh, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar. Kali ini, pentas mengangkat lakon Songsong Tunggul Naga dengan menampilkan Dalang Ki Darmadi dari Paguyuban Dalang Karanganyar.

Sumanto mengatakan, pagelaran wayang kulit tersebut digelar sebagai bagian dari upaya untuk terus merawat dan melestarikan budaya Jawa. Menurutnya, wayang kulit tidak hanya merupakan kesenian tradisional, tetapi juga memiliki nilai-nilai kehidupan yang dapat disampaikan kepada masyarakat. Yaitu melalui cerita dan karakter para tokohnya.

Sumanto mengaku rutin menggelar wayang kulit dengan melibatkan para dalang di Kabupaten Karanganyar. Selain menjadi ruang bagi masyarakat untuk menikmati pertunjukan seni, kegiatan tersebut juga dapat memberikan ruang bagi para dalang dan pelaku seni untuk terus berkarya.

BACA JUGA: Ketua DPRD Jateng Sumanto Dorong Petani Perkuat Keuangan Keluarga dengan Tiga Sumber Penghasilan

“Wayang ini bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan. Dalam setiap lakon ada cerita, filosofi dan pesan moral yang bisa kita ambil untuk kehidupan sehari-hari. Karena itu, saya ingin kegiatan seperti ini terus berjalan dan menjadi bagian dari upaya nguri-uri budaya Jawa,” kata Sumanto.

Menurutnya, keberadaan wayang perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda agar kesenian tradisional tersebut tidak kehilangan penonton maupun penerus. Karena itu, pagelaran di kediamannya juga ia harapkan menjadi ruang bertemunya masyarakat, seniman, dalang, dan para pelaku budaya.

Ketua DPRD Jateng Sumanto
Ketua DPRD Jateng Sumanto berharap masyarakat tak sekedar menonton wayang kulit, tapi juga memahami makna ceritanya. (Humas DPRD Jateng)

Dalam pentas kali ini, Ki Darmadi membawakan lakon Songsong Tunggul Naga. Selain memainkan cerita, Ki Darmadi juga memberikan penjelasan tentang kisah yang terkandung dalam lakon tersebut.

Banyak pesan moral dari kisah pewayangan

Ia menjelaskan Songsong Tunggul Naga mengisahkan tentang perebutan pusaka kahyangan yang melambangkan kekuasaan, kewajiban, dan sifat kepemimpinan untuk melindungi rakyat. Dalam cerita tersebut, para ksatria seperti Pandawa atau tokoh Punakawan harus menghadapi kekacauan di dunia akibat lenyapnya keseimbangan moral dan kepemimpinan yang benar.

“Namun melalui pertempuran dan laku spiritual, keseimbangan alam semesta akhirnya dipulihkan kembali dan pusaka kembali ke tangan pemimpin yang berhak,” katanya.

BACA JUGA: Sumanto Ajak Anak Muda Manfaatkan Ponsel jadi Sumber Penghasilan Lewat Konten Afiliator

Ki Darmadi menambahkan, lakon tersebut sekaligus menguraikan pesan moral yang dapat penonton petik dari cerita. Melalui perjalanan para tokoh dalam lakon, penonton dapat melihat gambaran mengenai kehidupan manusia, termasuk bagaimana seseorang harus bersikap, mengambil keputusan, memegang prinsip, serta mempertanggungjawabkan setiap tindakan.

Menurutnya, nilai-nilai tersebut menjadi salah satu kekuatan wayang kulit. Cerita yang dalang sampaikan melalui tokoh pewayangan tidak berhenti sebagai hiburan, tetapi dapat menjadi bahan renungan bagi penonton dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Sumanto pernah nanggap wayang kulit 34 jam nonstop

Langkah Sumanto yang rutin menggelar pertunjukan wayang kulit mendapat apresiasi dari Ki Waluyo Noto Carito dari Paguyuban Dalang Karanganyar. Ia menyebut, hingga saat ini Sumanto sudah 34 kali nanggap wayang kulit dengan menggandeng para dalang di Kabupaten Karanganyar.

Menurut Ki Waluyo, konsistensi tersebut memberikan ruang bagi para dalang di Karanganyar untuk terus berkarya. Tidak hanya itu, kegiatan tersebut juga menjadi wadah berkumpulnya para pelaku seni pedalangan. Bahkan, saat Peringatan Hari Wayang Nasional dan Hari Wayang Dunia, Sumanto pernah menggelar pentas wayang kulit secara maraton selama 36 jam dan 28 jam nonstop.

“Dua tahun lalu Pak Manto menggelar pagelaran wayang 36 jam nonstop. Tahun lalu 28 jam dalam rangka Hari Wayang Nasional. Bahkan Pak Manto kami nobatkan menjadi Bapaknya Wayang Kabupaten Karanganyar. Saya berharap ini jadi rumah seni kita, jadi kebun seninya Pak Manto dalam rangka nguri-uri budaya,” tandasnya.

BACA JUGA: Keterwakilan Perempuan di DPRD Jateng Baru 19 Persen, Sumanto Dorong Target 30 Persen Terpenuhi di Pileg 2029

Ki Waluyo mengatakan, dalam pentas tersebut para dalang se-Kabupaten Karanganyar berkumpul bersama. Mereka tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga ikut terlibat dalam pentas, salah satunya menjadi penabuh gamelan. Menurutnya, keterlibatan para dalang tersebut membuat kegiatan wayang kulit menjadi ruang bersama bagi para seniman untuk bersilaturahmi sekaligus mempertahankan tradisi pedalangan di Karanganyar.

Sementara itu, Sekdes Suruh, Aan Andrianto, mengajak masyarakat agar tidak hanya menjadikan pagelaran wayang kulit sebagai hiburan semata. Ia meminta masyarakat mengambil pesan moral dan petuah dari setiap cerita yang tersaji. Menurutnya, karakter para tokoh pewayangan dapat menjadi bahan pembelajaran mengenai sikap dan perilaku dalam kehidupan.

Aan mencontohkan sejumlah tokoh yang dapat menjadi teladan, seperti Arjuna, Werkudara, dan Kresna. Sebaliknya, sifat buruk yang tergambar melalui tokoh seperti Sengkuni dapat menjadi pelajaran agar tidak penonton tiru.

“Wayang kulit ini tak hanya sekadar soal nguri-uri budaya, tapi juga bisa menambah wawasan dan pesan moral yang baik,” katanya. (*)

Editor: Ricky Fitriyanto

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp