SEMARANG, beritajateng.tv – Hasil survei Litbang Kompas mengenai Pilgub Jawa Tengah 2024 menyoroti persaingan ketat antara pasangan Andika-Hendi dan Luthfi-Yasin.
Peneliti Litbang Kompas, Vincentius Gitiyarko, menyebutkan bahwa ada pola menarik dari hasil survei tersebut. Yakni, Andika-Hendi dan Luthfi-Yasin saling mengungguli di ceruk pasar segmen pemilih yang berbeda.
Pada level pendidikan dasar (SD), pemilih Andka-Hendi mencapai 26,3%, sementara yang memilih Luthfi-Yasin lebih tinggi, yakni 28,4%. Sisanya, 45,3%, tidak tahu atau belum menentuka puilihan.
BACA JUGA: Survei Litbang Kompas Oktober 2024, Andika-Hendi Ungguli Luthfi-Yasin: Lebih Disukai Gen Z
“Walaupun kita masih bilang bahwa tetap angkanya bersaing, tapi ada pola bahwa semakin tinggi level pendidikan responden itu cenderung suaranya mengarah kepada Andika Perkasa dan Hendrar Prihadi. Sementara semakin ke responden dengan level pendidikan dasar itu cenderung dukungannya mengarah kepada Ahmad Lufi dan Taj Yasin,” papar Vincentius.
Vincentius menilai bahwa pola dukungan ini menunjukkan bagaimana masing-masing pasangan calon berhasil menarik perhatian pemilih sesuai segmen pendidikan mereka.
“Nah, ini tentu mengindikasikan bagaimana sosialisasi, kampanye, oleh masing-masing paslon ini selama berjalan itu masyarakat terima dari level pendidikannya masing-masing begitu,” imbuhnya.
Andika-Hendi ungguli tipis Luthfi-Yasin di survei Litbang Kompas
Dalam survei pada 15-20 Oktober 2024, pasangan nomor urut 1, Andika-Hendi, unggul dengan elektabilitas 28,8%, atau lebih tinggi 0,7% dari Luthfi-Yasin yang meraih 28,1%.
Selain itu, survei ini memperkuat hasil dari SMRC yang juga menunjukkan keunggulan Andika-Hendi dengan selisih 0,6% dari Luthfi-Yasin.
Vincentius menambahkan bahwa waktu tiga minggu menuju pencoblosan pada 27 November 2024 menjadi sangat krusial bagi kedua pasangan calon.
“Kedua kandidat dirasa sama-sama kuat dan sama-sama menarik, sehingga masyarakat cenderung menunggu proses politik berjalan ke depan. Mungkin saja undecided voters yang sebesar 43,1% ini sebenarnya sudah punya pilihan tapi belum bisa memastikan,” terangnya.
Angka undecided voters yang tinggi tersebut menurut Vincentius masih dua kali lipat lebih besar daripada angka rata-rata golput di Jawa Tengah pada dua pemilu presiden terakhir, yang mencapai sekitar 80%.
“Kalau kita bandingkan dengan tingkat partisipasi pemilih di Jateng pada dua Pilpres terakhir itu angkanya sekitar 80%. Maka angka undecided voters sebesar 43,1% ini masih dua kali lipat dari rata-rata angka golput di Jawa Tengah,” jelasnya. (*)





