Jateng

Tagih Janji ‘Ngopeni Nglakoni’ Ahmad Luthfi, Warga Grobogan Keluhkan Jalan Provinsi Tak Kunjung Diperbaiki

×

Tagih Janji ‘Ngopeni Nglakoni’ Ahmad Luthfi, Warga Grobogan Keluhkan Jalan Provinsi Tak Kunjung Diperbaiki

Sebarkan artikel ini
ahmad luthfi didemo
Seorang demonstran membawa tulisan ‘Gubernur Ora Tau Kerjo’ saat demonstrasi yang berlangsung di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu, 22 Juli 2026 sore. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Perwakilan massa asal Kabupaten Grobogan menagih janji Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi saat menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu 22 Juli 2026 sore.

Mereka menilai slogan “Ngopeni Nglakoni” yang Ahmad Luthfi usung belum sepenuhnya terealisasi, utamanya terkait perbaikan jalan provinsi di Grobogan.

Aksi tersebut merupakan bagian dari demonstrasi Aliansi Jateng Guyub yang diikuti perwakilan massa dari 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah.

Massa membawa berbagai tuntutan, mulai dari persoalan infrastruktur, kerusakan lingkungan, hingga kesejahteraan masyarakat.

Perwakilan massa asal Grobogan, Heru Rudiyanto, mengatakan ia datang bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan menyuarakan aspirasi masyarakat Grobogan yang hingga kini masih menghadapi persoalan infrastruktur jalan.

“Kami berdiri di sini bukan untuk kepentingan kami, tapi untuk kepentingan kalian semua,” ujar Heru dalam orasinya.

BACA JUGA: Dubes Iran Datangi Jateng, Ahmad Luthfi Tertarik Belajar Pertanian dan Peternakan

Heru mengatakan, masyarakat Grobogan kini menagih janji Ahmad Luthfi yang mengusung slogan “Ngopeni Nglakoni” saat maju sebagai Gubernur Jawa Tengah.

“Sesuai janji Bung Luthfi Gubernur Jawa Tengah, kami menagih janjinya. Janji Ngopeni Nglakoni. Namun dalam kenyataannya, hingga saat ini belum semuanya terealisasi. Jalan-jalan di Kabupaten Grobogan, khususnya jalan provinsi, belum pernah tersentuh sama sekali,” katanya.

Dalam aksi tersebut, Heru juga menyoroti pembangunan jalan lingkar di Grobogan yang menurutnya tak kunjung terealisasi sejak puluhan tahun lalu.

Padahal, kata Heru, jalur tersebut menjadi akses penting bagi mobilitas komoditas masyarakat.

“Bahkan ada satu jalan lingkar yang menjadi jalur kebutuhan komoditas. Sejak tahun 1996 di era pemerintahan Soeharto hingga kini juga belum terbangun. Sungguh miris sekali,” ucapnya.

Selain persoalan infrastruktur, Heru turut menyinggung aktivitas tambang di kawasan Pegunungan Kendeng Utara, Grobogan.

Menurutnya, aktivitas tersebut mengancam kelestarian lingkungan dan sumber mata air yang menjadi penopang kehidupan masyarakat.

“Kami sangat miris. Teman-teman di Kendeng, khususnya di wilayah Wirosari, menolak adanya galian yang merusak Pegunungan Kendeng. Perlu diingat, Kendeng adalah paku bumi untuk warga Jawa Tengah. Di sanalah ada air yang harus diselamatkan. Pegunungan di situ adalah nyawa petani,” tegasnya.

SDalam kajiannya, Aliansi Jateng Guyub menyebut Jawa Tengah tengah menghadapi berbagai persoalan yang mereka sebut sebagai “darurat ekonomi rakyat”.

BACA JUGA: Di Ajang SBBI Award 2026, Gubernur Ahmad Luthfi Raih Penghargaan Impactful Regional Leadership

Selain infrastruktur jalan, massa juga menyoroti kenaikan harga kebutuhan pokok, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), praktik upah murah, kerusakan lingkungan, hingga konflik agraria di sejumlah daerah.

Melalui aksi tersebut, massa mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Tengah segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki infrastruktur jalan, khususnya di wilayah Grobogan dan Blora, serta menindaklanjuti berbagai persoalan yang dinilai berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. (*)

Editor: Farah Nazila

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp