Dari pemikiran itulah ia memperkenalkan model pembelajaran baru berbasis Project-Based Learning (PBL). Melalui metode ini, taruna Akpol tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi langsung terjun ke lapangan untuk memahami realitas sosial.
Mereka mendampingi petani, pelaku usaha kecil, melatih warga desa mengembangkan potensi lokal, dan berkolaborasi dengan berbagai instansi dalam proyek pemberdayaan ekonomi.
Menurutnya, Taruna harus belajar dari masyarakat, bukan sekadar tentang masyarakat. Kepemimpinan itu bukan hanya soal memberi perintah, tapi tentang mendengar, memahami, dan berbuat.
Gagasan ini mendapat dukungan penuh dari Gubernur Akpol, Irjen Pol Midi Siswoko, yang melihat proyek ini sebagai tonggak penting dalam arah baru pendidikan kepolisian.
“Akpol bukan hanya tempat melahirkan penegak hukum, tetapi juga pemimpin bangsa. Kepemimpinan sejati tidak bisa lahir dari ruang kelas semata. Ia tumbuh dari empati, dari keberanian untuk memahami kesulitan orang lain,” ungkap Gubernur.
Akpol mesti terlibat lebih aktif dalam pembangunan sosial
Menurutnya, proyek yang Nugraha inisiasi ini telah membuka jalan baru bagi Akpol untuk terlibat lebih aktif dalam pembangunan sosial.
Pihaknya ingin keamanan dan kesejahteraan berjalan beriringan. Taruna harus bisa melihat bahwa menjaga ketertiban juga berarti membantu masyarakat keluar dari lingkar kemiskinan.
Untuk mewujudkan hal itu, proyek ini melibatkan kolaborasi lintas sektor. Nugraha menggandeng Dinas Tenaga Kerja, Dinas Pertanian, lembaga perbankan, akademisi, hingga kelompok masyarakat sipil dalam sebuah model kemitraan yang disebut multi-helix.
Melalui jejaring tersebut, taruna belajar bekerja lintas disiplin, memahami kebijakan publik, dan mencari solusi inovatif untuk pemberdayaan ekonomi di daerah-daerah miskin.
BACA JUGA: Polda Jateng soal Penipuan “Kuota Kapolri” Akpol: Polisi Pekalongan Ngaku Punya Akses ke Pusat





