Camat Gajahmungkur itu berharap ketiga pihak, yakni Sri Rejeki selaku pemilik tanah, dan keluarga Juladi Siagian, serta warga sekitar dapat duduk bersama agar konflik tidak semakin meluas dan anak-anak tidak menjadi korban.
Sebelumnya, video viral tersebut menunjukkan bahwa jalan utama yang biasa dilalui telah ditutup secara sepihak. Hal itu memaksa Juladi dan keluarganya mencari jalur alternatif yang berbahaya, termasuk melewati bantaran sungai untuk akses berangkat sekolah anaknya.
BACA JUGA: BEM UNDIP Mundur dari BEM SI, Tegaskan Gerakan Mahasiswa Harus Lepas dari Panggung Politik
Menurut keterangan beberapa warga sekitar lokasi, penutupan akses ini merupakan buntut dari kasus persengketaan lahan yang terjadi sejak 2019.
Selain karena pihak Sri Rejeki memenangkan kasus di pengadilan, warga juga menyebut bahwa Juladi kurang bersosialisasi di lingkungan sekitar.
Sementara itu, pihak Juladi berharap ada penyelesaian adil yang tidak hanya mempertimbangkan legalitas administratif, tetapi juga kemanusiaan. (*)
Editor: Farah Nazila





