Slamet mengaku tidak memiliki trik khusus untuk meraih ribuan order tersebut. Ia hanya berusaha konsisten bekerja setiap hari dan tidak menolak pesanan selama masih memungkinkan.
“Yang penting semangat. Kalau ada order masuk ya diambil. Lama-lama kan jadi banyak. Saya kerja on time,” katanya.
Dalam seminggu, ia bisa memperoleh penghasilan bersih lebih dari Rp1 juta. Bahkan pada hari sepi sekalipun, ia masih bisa membawa pulang sekitar Rp250 ribu.
Orderan Rute Kota hingga Pinggiran Semarang
Untuk mengejar order, Slamet biasanya beroperasi di kawasan tengah Kota Semarang seperti jalur Pemuda hingga Simpang Lima yang menurutnya paling ramai.
“Di tengah kota itu bunyi terus. Antara Pemuda sampai Simpang Lima itu ramai,” ungkapnya.
Ia juga pernah mengantar penumpang hingga rute cukup jauh seperti Bandungan, Tlogosari, Mijen, hingga Pudak Payung. “Pernah sampai Bandungan juga, masih kuat tarikannya,” katanya.
BACA JUGA: Bajaj Maxride Semarang Bantah Wajib KIR, Klaim Beri Manfaat Sosial Bagi Warga
Mayoritas penumpang merupakan anak muda yang penasaran mencoba bajaj modern. Bahkan saat hujan turun, permintaan bisa meningkat drastis.
“Kalau hujan sebentar saja bisa dapat Rp200 ribu sampai Rp300 ribu,” jelasnya.
Kisah Slamet menjadi inspirasi bahwa kerja keras dan keberanian mengambil peluang baru dapat menjadi jalan keluar dari kesulitan ekonomi. Dari beban utang hingga menjadi driver bajaj terbaik di Semarang, perjuangannya membuktikan bahwa harapan selalu ada bagi mereka yang tidak menyerah. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





