Melalui interaksi di ruang tunggu stasiun, Soliloquium de Tempore mengeksplorasi ketegangan antara tradisi dan modernitas.
Para tokohnya saling berhadapan dengan nilai-nilai lama yang terus diuji oleh perubahan sosial dan kemajuan teknologi.
Naskah ini juga menyisipkan kritik terhadap perilaku sejumlah pejabat yang di nilai abai terhadap tanggung jawab moral. Kritik tersebut muncul secara simbolik melalui dialog dan gestur, tanpa kehilangan kekuatan dramatiknya.
Ian menegaskan bahwa teater harus berani menyuarakan kegelisahan zaman. “Kami percaya panggung bukan hanya ruang hiburan, tetapi juga ruang refleksi. Teater harus bisa mengajak penonton berpikir dan merasakan ulang realitas di sekitar mereka,” ujarnya.
Konsisten Berkarya Sejak 2017
Teater Gemati sendiri merupakan kelompok seni yang lahir dari semangat alumni Teater Gema dan berdiri sejak 2017 di Semarang.
Dalam beberapa tahun terakhir, mereka konsisten menghadirkan produksi seperti Pohon Babi pada 2023, Firasat pada 2024, serta Tawang dan Sebuah Peristiwa pada 2025.
Melalui Soliloquium de Tempore, Teater Gemati kembali menegaskan komitmennya menghadirkan karya yang relevan dengan dinamika sosial.
“Ke depan, kami akan terus berproses dan berupaya melahirkan karya baru setiap tahun. Kami ingin menjaga api kreatif tetap menyala,” tutur Ian. (*)
Editor: Elly Amaliyah





