Pihaknya menegaskan, seluruh penghentian operasional yang tercatat saat ini memiliki penyebab yang sama. “Iya, murni karena masalah IPAL semuanya,” tegas Urip.
Satu Dapur Layani 2.000 hingga 3.000 Penerima Manfaat
Meski belum memegang data rinci jumlah penerima manfaat yang terdampak, Urip menyebut satu dapur MBG rata-rata melayani ribuan orang.
Ia pun membenarkan penghentian operasional ratusan dapur tersebut berpotensi berdampak pada jumlah penerima manfaat yang cukup besar.
“Saya tidak memegang data detailnya saat ini. Tetapi jika kita hitung rata-rata, satu SPPG itu melayani sekitar 2.000 hingga 3.000 penerima manfaat. Silakan kalikan saja dengan jumlah SPPG yang berhenti tersebut,” akunya.
BACA JUGA: Puluhan Dapur MBG di Jateng Tutup, Gus Yasin Tegaskan Tak Semua Terkendala Pencairan Dana
Meski demikian, Urip menegaskan penghentian operasional tersebut bersifat sementara dan hanya berkaitan dengan pemenuhan standar IPAL.
“Iya, sifatnya sementara. Penutupan ini hanya menyoal standar IPAL saja sebetulnya,” kata Urip.
Satgas Jateng Belum Terima Laporan Soal Dana Operasional
Belakangan, sejumlah dapur MBG di berbagai daerah sempat ԁikabarkan berhenti beroperasi akibat dana operasional yang belum cair. Namun, Urip mengatakan hingga saat ini Tim Percepatan MBG Jawa Tengah belum menerima laporan resmi terkait persoalan tersebut.
“Setahu kami, Satgas Provinsi belum menerima laporan terkait hal tersebut. Informasi resmi yang kami dapatkan dari Koordinator BGN Jateng menegaskan bahwa penghentian operasional tersebut terjadi karena fasilitas IPAL yang belum memenuhi syarat,” jelas Urip.
Menanggapi laporan masyarakat terkait dapur yang berhenti akibat persoalan pembayaran, Urip mengaku akan melakukan pengecekan ulang.
“Sampai hari ini saya belum mendapat laporan tersebut. Nanti saya akan mengecek kembali silang informasi ke teman-teman di KPPG yang memang bertugas memantau harian di lapangan,” tuturnya.





