Gaya Hidup

Tepuk Sakinah Viral, Psikolog: Bukan Jaminan Cegah Perceraian, Inti Pernikahan Tetap Komunikasi

×

Tepuk Sakinah Viral, Psikolog: Bukan Jaminan Cegah Perceraian, Inti Pernikahan Tetap Komunikasi

Sebarkan artikel ini
Tepuk Sakinah Perceraian
Tepuk Sakinah oleh KUA Menteng. (Foto: Instagram/@kua_menteng)

SEMARANG, beritajateng.tv – Fenomena Tepuk Sakinah tengah viral di media sosial. Yel-yel unik yang Kementerian Agama (Kemenag) kenalkan dalam program Bimbingan Perkawinan (Bimwin) ini menjadi perbincangan hangat.

Tak sedikit orang yang menyebutnya sebagai cara menyenangkan untuk belajar membangun rumah tangga. Viralnya Tepuk Sakinah ini Kemenag harapkan dapat berkontribusi dalam menekan angka perceraian.

Fenomena yang viral ini telah mencuri perhatian publik dan mendapat respons positif, khususnya dari para calon pengantin (catin).

BACA JUGA: Di Balik Fenomena Tepuk Sakinah: Filosofi Keluarga Islami Terselip dalam Gelak Tawa

Staf KUA Candisari, Khoirul Burhan, yang juga menjadi pemateri Bimwin menyebut metode ini merupakan bentuk inovasi dakwah yang menyesuaikan perkembangan zaman.

“Sekarang apa yang trending di media sosial sering jadi perhatian masyarakat. Justru ini kesempatan untuk menyampaikan pesan baik dengan cara kreatif,” ujarnya.

Tepuk Sakinah hadir sebagai metode ice breaking saat Bimwin agar peserta lebih rileks. Namun, lebih dari sekadar tepuk tangan, Tepuk Sakinah menyimpan filosofi lima pilar rumah tangga islami.

Tepuk Sakinah: Filosofi menarik belum tentu bisa tekan perceraian

Meski mendapat sorotan luas, psikolog Dra. Probowatie Tjondronegoro, M.Si. menilai Tepuk Sakinah belum bisa menjadi solusi untuk menekan angka perceraian.

Menurutnya, secara psikologis inovasi ini lebih sekadar simbol untuk menciptakan suasana gembira di awal pernikahan.

“Kalau kita mulai suatu pernikahan dengan gembira, harapannya membawa semangat baik. Tapi apakah bisa menurunkan angka perceraian, saya belum bisa memastikan karena belum ada penelitian ilmiah tentang hal itu,” ujarnya kepada beritajateng.tv via panggilan WhatsApp pada Selasa, 30 September 2025.

Probowatie menambahkan, Tepuk Sakinah dapat dimaknai sebagai pengingat pentingnya komunikasi dalam rumah tangga. “Kalau tidak bertepuk tangan, tidak ada suara. Begitu juga dengan pernikahan, tanpa komunikasi tidak akan harmonis,” jelasnya.

BACA JUGA: Perceraian Akibat Judi Meningkat, Kemenag Jawa Tengah Andalkan Bimbingan Perkawinan, Efektifkah?

Ia menegaskan bahwa keberlangsungan rumah tangga tidak hanya ditentukan oleh simbol atau tradisi baru, melainkan oleh kemampuan pasangan menjaga komunikasi.

“Rumah tangga itu harus ada komunikasi. Kalau tidak, masing-masing hanya menuruti kehendak sendiri. Tepuk Sakinah bisa jadi pengingat sederhana bahwa suami istri harus saling memahami dan berkomunikasi,” tegasnya.

Sebagai inovasi baru, Probowatie menilai efektivitas Tepuk Sakinah perlu terus dievaluasi. Kendati demikian, ia tidak menampik bahwa inovasi ini bisa menjadi media edukasi kreatif bagi calon pengantin.

“Minimal, Tepuk Sakinah itu memberi pesan penting bahwa perkawinan tidak bisa berjalan tanpa komunikasi yang sehat,” tandasnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp