SEMARANG, beritajateng.tv – NFT (Non-Fungible Token) pernah viral pada masanya karena foto selfie Ghozali Everyday. Begitu juga crypto dan bitcoin yang kini semakin menjadi tren investasi di era digital.
Meski ketiganya tampak menggiurkan, namun tak mudah untuk bisa berinvestasi pada aset digital tersebut. Terdapat berbagai risiko yang mengancam apabila tidak cermat dalam mengambil keputusan.
Akhmad Nuranyanto, Praktisi Investasi asal Semarang menjelaskan, aset digital seperti NFT, crypto, bitcoin, hingga metaverse memang tengah naik daun. Selama ini, masyarakat cenderung lebih mengenal aset riil dan aset keuangan.
Misalnya aset riil ada tanah, properti, dan logam mulia. Sedangkan aset keuangan seperti saham, obligasi, dan reksadana.
BACA JUGA: KSPM Udinus Ajak Siswa SMA Karangturi Belajar Investasi Sejak Dini, Modal Manfaatkan Uang Saku
Meski begitu, kelayakan aset digital menjadi investasi masih dipertanyakan dan diperdebatkan hingga saat ini. Sebab, kata Achmad, kembali ke profil risiko masing-masing individu.
“Karena aset digital secara underlying asset atau aset yang menjadi nilai dasar investasi itu masih dipertanyakan, artinya apa, aset riilnya dari aset digital itu,” katanya kepada beritajateng.tv, Senin, 29 April 2024.
Ia mencontohkan, aset riil memiliki bentuk fisik misalnya properti bangunan dan tanah. Selain itu aset keuangan saham juga memiliki bentuk fisik perusahaannya.
Sedangkan aset digital tidak memiliki bentuk fisik. Misalnya bitcoin sebagai koin digital, NFT sebagai foto digital, hingga metaverse sebagai lahan digital sama-sama tidak berbentuk fisik.
“Di mana itu masih dipertanyakan secara konsep investasi ada underlying asset atau tidak,” lanjut Akhmad.
Pahami profil risiko
Lebih lanjut, Akhmad menekankan, apapun aset investasi yang terpilih, seseorang harus memahami terkait profil risiko. Sebab, setiap aset memiliki profil risiko yang berbeda-beda.
“Kenali profil risiko diri kita terlebih dahulu, karena ketika kita sudah tau profil risiko itu bisa kita tanggung, silakan ambil untuk investasi,” bebernya.
BACA JUGA: Beri Literasi untuk Gen Z, Kepala RFB: Biar Doyan Investasi karena Ngerti
Ia pun berpesan kepada siapa saja yang masih belajar menanam modal untuk menggunakan uang kecil dulu. Baik aset riil, aset keuangan, ataupun aset digital.
Artinya, gunakan uang yang bukan bertujuan untuk membayar kebutuhan konsumsi primer. Atau dengan kata lain menggunakan “uang nganggur” atau “uang mati”.
“Pakai uang kecil dulu, sehingga ketika mengalami kerugian atau kegagalan investasi teman-teman tidak kehabisan modal,” pesan Akhmad. (*)
Editor: Farah Nazila





