“Boleh kami katakan tim Jateng itu paling konyol. Pasalnya, suporter kita sendiri malah mengolok-olok pemain kita saat bikin kesalahan di lapangan. Dari situ terbangun rasa suka tanpa beban. Lucunya, karena bermain tanpa beban, hasilnya justru terbalik: kita malah menang! Itulah keunikan dan keistimewaan tim Jateng,” kata Budi mengenang sambil tertawa.
Bahkan soal persiapan, Budi mengaku tak ingin terlalu kaku. Kalau atlet profesional wajib ketat menjaga pola makan, pebulutangkis wartawan Jateng justru bebask menikmati hidangan seenak mungkin, yang penting hati gembira.
Perubahan Aturan Beregu dan Peta Persaingan 2027
Menatap Porwanas XV 2027 di Lampung, Koordinator Bulutangkis Siwo PWI Jateng, Darjo Soyat, memaparkan adanya perubahan regulasi pada nomor beregu.
Saat Porwanas 2022 Malang dan Porwanas 2024 tim beregu cukup empat pemain (di mana satu pemain bisa merangkap di nomor tunggal dan ganda) dalam tiga partai, maka di Lampung 2027 mendatang, aturan main berubah total. Partai beregu akan mempertandingkan tiga pasang ganda dengan rentang usia berbeda: bawah 35 tahun, 35–45 tahun, dan di atas 45 tahun.
“Artinya kita harus cermat menyiapkan pasangan di kelompok umur bawah 35 tahun. Namun saya sepakat dengan Pak Budi, Porwanas tetaplah wadah hepi dan silaturahmi,” kata Darjo, mantan Ketua Siwo PWI Jateng periode 2010-2015 itu.
BACA JUGA: Klasemen Como 1907 di Liga Champions UEFA, Bayangi MU dan Barcelona
Mengenai peta kekuatan lawan, wartawan senior yang pernah meliput Olimpiade Sydney dan Beijing itu menilai sejauh ini belum ada daerah yang memiliki tiga pasangan sempurna di semua kelompok umur. Rival klasik seperti Jawa Timur, Jawa Barat, dan DKI Jakarta prediksinya tetap menjadi batu sandungan. Juga ada Lampung sebagai tuan rumah yang wajib menjadi kewaspadaan.
Meski begitu, Jateng optimistis lantaran memiliki pilar andalan seperti Fentri Susilo Utomo yang sudah kenyang pengalaman dan paham betul peta kekuatan lawan.





