BLORA, beritajateng.tv – Krisis air bersih di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, semakin meluas. Hingga akhir Oktober 2026, sebanyak 174 desa dan kelurahan tercatat mengalami kekeringan. Sementara itu, permintaan suplai air bersih terus berdatangan dari 35 desa dan kelurahan.
Kondisi tersebut semakin berat setelah pipa jaringan utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) mengalami kerusakan. Hal ini menyebabkan ribuan pelanggan kesulitan mendapatkan pasokan air untuk kebutuhan sehari-hari.
BACA JUGA: 670 Tangki Air Bersih Disalurkan untuk Warga Terdampak Kekeringan di Kabupaten Semarang
Kepala Seksi Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora, Yudi Prasetyo, mengatakan, hingga akhir Oktober belum turun hujan di wilayah Blora. Sejumlah sumur warga masih mulai mengering dan tidak lagi dapat diandalkan sebagai sumber air bersih.
“Sejumlah wilayah masih mengalami krisis air bersih karena belum turun hujan hingga akhir Oktober. Kondisi sumur warga juga sudah banyak yang mengering. Kebutuhan air bersih harus ada melalui penyakuran dari BPBD,” katanya, Senin, 2 November 2026. Untuk mengatasi kondisi tersebut, BPBD Blora setiap hari mengerahkan armada truk tangki guna menyalurkan air bersih langsung ke permukiman warga.
Rata-rata sebanyak 16 tangki air bersih berkapasitas masing-masing 5 ribu liter BPBD distribusikan setiap hari. Penyaluran melalui wilayah yang membutuhkan, terutama desa dan kelurahan yang sumber airnya telah mengering.
BACA JUGA: Puting Beliung Terjang Cepu Blora, Empat Tiang Listrik Sampai Patah
Salurkan Air dengan 1.176 tangki
Sepanjang musim kemarau tahun ini, BPBD Blora telah menyalurkan air bersig sebanyak 1.176 tangki. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 5,88 juta liter air yang telah sampai kepada masyarakat terdampak.
Yudi mengatakan, upaya penyaluran akan terus berjalan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga selama krisis air bersih masih berlangsung.





