SEMARANG, beritajateng.tv – Mendapat tawaran kuliah di kampus top dunia tentu menjadi impian banyak remaja. Namun, bagi Anindya Rarasati (18), siswi SMA Islam Al Azhar 14 Semarang asal Salatiga, impian tersebut datang dalam jumlah berlipat, ia berhasil mengantongi Letter of Acceptance (LoA) dari delapan perguruan tinggi ternama di dalam dan luar negeri.
Meski deretan universitas bergengsi di Inggris seperti King’s College London membuka pintu lebar-lebar untuknya, Anindya mengambil keputusan besar. Ia mantap memilih melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) melalui Jalur Prestasi.
Lantas, apa pertimbangan di balik keputusan besar siswi yang santun dan berpemikiran dewasa ini?
Anindya mengungkapkan bahwa keputusan menolak tawaran luar negeri dan memilih FK UI diambil berdasarkan berbagai pertimbangan rasional, salah satunya efisiensi biaya.
“Lebih ekonomis. Memang perlu biaya yang besar untuk bisa tembus ke beasiswa. Itu kan perlu effort luar biasa dan saya yakin di atas langit masih ada langit. Qadarullah melanjutkan di Indonesia yang sama bagusnya,” tutur Anindya pada Sabtu, 25 Juli 2026.
BACA JUGA: Mahasiswi Meksiko Ikuti Program Human Origins Heritage UKSW, Belajar Langsung di Situs Prasejarah
Bagi Anindya, nama besar atau peringkat dunia sebuah kampus bukanlah segala-galanya dalam mengejar cita-cita.
“Karena bagi saya universitas mana pun pasti bisa mendukung seseorang untuk bisa lebih baik dan berkembang. Bukan karena ini ranking dunianya lebih bagus atau gimana, tapi insyaallah semua universitas itu bisa menyokong mimpi saya,” imbuhnya.
Prestasi akademis Anindya memang luar biasa. Sebelum menjatuhkan pilihan pada FK UI, ia mengumpulkan tawaran dari berbagai program studi prestisius. Anindya juga diterima di kampus lain yakni, Universitas Gadjah Mada (UGM) Hubungan Internasional (IUP), Universitas Airlangga (Unair) & University of Melbourne Program Double Degree Fakultas Kedokteran, King’s College London Inggris Politics BA dan International Development, SOAS University of London Inggris Hubungan Internasional, University of Birmingham Inggris Hubungan Internasional, Newcastle University Inggris Hubungan Internasional.
Mimpi Besar di Bidang Perawatan Kesehatan dan Pengabdian
Meskipun jurusan yang diterimanya bervariasi antara Kedokteran dan Hubungan Internasional, Anindya sebenarnya memiliki benang merah cita-cita yang jelas. Ia ingin berfokus pada international financial development demi memperjuangkan penyetaraan perawatan kesehatan (healthcare).
Pilihan jatuhnya ke FK UI pun berdasar dari niat murni untuk mengabdi secara langsung kepada masyarakat.
“Untuk kedokteran saya pilih di Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran. Saya ingin membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara langsung,” tegasnya.
Perjuangan Tembus Kampus Inggris IELTS 7 hingga Personal Statement
Keberhasilan Anindya menembus universitas di Inggris tidak ia dapat secara instan. Dukungan penuh dari pihak sekolah dan guru SMA Islam Al Azhar 14 Semarang menjadi modal utamanya.
Untuk memenuhi standar pendidikan Inggris, Anindya sempat mengikuti International Foundation Program selama enam bulan di Inggris. Dari sana, ia mengenal sistem pendaftaran portal UCAS (Universities and Colleges Admissions Service).
“Dari situ saya lebih terbuka akan peluang-peluang. Saya jadi paham bagaimana cara mendaftar langsung ke universitas di Inggris melalui UCAS. Itu kayak portal SNPMB, kita bisa memilih lima universitas sekaligus,” jelas Anindya.
Melalui jalur tersebut, ia mengamankan dua unconditional offer (ditolak/diterima tanpa syarat tambahan) dari King’s College London. Sebelumnya, saat kelas 11, ia juga sudah mengantongi conditional offer berbasis nilai rapor dari City College Plymouth.
Tak hanya itu, Anindya harus berjuang selama lima bulan untuk meraih skor IELTS 7. “Kalau menurut saya IELTS 7 itu kadang masih terasa kurang untuk survive sehari-hari di perkuliahan karena kosakatanya pasti jauh lebih tinggi,” katanya.
Selain nilai tes dan akademik, Anindya menekankan pentingnya personal statement serta konsistensi kegiatan ekstra yang relevan dengan minat risetnya di bidang kebijakan publik dan kesehatan.
“Mereka ingin melihat kenapa kita cocok diterima di universitas tersebut. Jadi bukan cuma nilai, tapi juga konsistensi minat dan kegiatan yang kita lakukan,” tambahnya.
Dukungan Tanpa Tuntutan dari Orang Tua
Di balik capaian gemilangnya, Anindya mengaku bersyukur karena orang tuanya tidak pernah menuntutnya untuk selalu menjadi yang terbaik. Dorongan itu murni lahir dari ia sendiri yang ingin memanfaatkan setiap peluang.
“Alhamdulillahnya saya beruntung orang tua saya suportif dan nggak masalah karena banyak jalur yang saya coba dan berubah-ubah, kan nggak sedikit juga modalnya, tapi tentu semua orang tua pasti inginnya yang terbaik untuk anaknya. Terus memang waktu itu ada kesempatan dan masa nggak diambil,” ucapnya bersyukur.
BACA JUGA: Polisi Telusuri Dugaan Pelecehan Tiga Mahasiswi oleh Arnendo Mahasiswa FIB, Undip Benarkan Ada Pelapor
Sebagai penutup, Anindya menyemangati seluruh pelajar di Indonesia agar tidak minder dan berani mencoba mendaftar ke kampus luar negeri.
“Saya yakin semua murid Indonesia sebenarnya bisa mendapat LOA. Mungkin memang belum banyak penyuluhannya, tapi banyak kok agen yang sepertinya tinggal dicari aja bantuan untuk mencari universitas,” pesan Anindya penuh optimisme.(*)
Editor: Farah Nazila





