Gaya Hidup

Tradisi Nyadran Sambut Ramadhan, Sandang Gede Pucung Dikuras dan Sebar Lele Satu Kuintal

×

Tradisi Nyadran Sambut Ramadhan, Sandang Gede Pucung Dikuras dan Sebar Lele Satu Kuintal

Sebarkan artikel ini
tradisi nyadran
Ratusan warga saat berebut lele dan membersihkan Sendang Gede Pucung dalam tradisi Nyadran, Jumat, 14 Februari 2025. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Ratusan warga Pucung RW 8, Kelurahan Pudak Payung, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang memadati komplek Sendang Gede Pucung untuk mengikuti acara Nyadran, Jumat, 14 Februari 2025 pagi.

Tradisi tersebut merupakan agenda rutin tahunan sebagai pertanda akan masuknya bulan suci Ramadhan. Mulai dari menyembelih ratusan ayam, jamasan pusaka, hingga bersih-bersih sendang.

Uniknya, sebelum prosesi bersih-bersih sendang, warga berebut satu kuintal ikan lele yang sebelumnya telah sengaja disebar.

Tokoh masyarakat setempat, Sunarmin menjelaskan, tradisi nyadran ini merupakan salah satu bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Selain itu juga sebagai cara menghormati para leluhur, terutama Nyai Tayem.

“Yang membuat Sendang Gede ini Nyai Tayem. Saat itu dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan air bersih, sekitar abad 15 dan 16. Sehingga Nyai Tayem itu tidak hanya tokoh di Desa Pucung, tapi juga Kelurahan Pudak Payung,” kata Sunarmin.

BACA JUGA: Tengaran Gelar Susuk Wangan, Tradisi Merawat Budaya dan Lingkungan

Ia menuturkan, Nyai Tayem memberi nama sendang menjadi Sendang Gede karena ukurannya memang lebih besar dari sendang-sendang lain yang sudah ada.

Setiap tahunnya, tradisi Nyadran sebagai ungkapan terima kasih kepada leluhur yang telah memberikan penghidupan kepada masyarakat Pudak Payung itu.

“Setelah dikuras, otomatis sendang menjadi bersih. Kemudian masyarakat bisa memanfaatkan sendang ini dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Sunarmin.

Selain itu, Sunarmin menjelaskan jika siapapun yang ikut berebut ikan lele, maka berkewajiban untuk menguras air sendang.

“Siapapun yang kena lumpur, harus ikut nawu (nguras). Kalau tidak nawu ada mitos bahwa kehidupan yang tidak bagus,” sambungnya.

Sementara itu, Camat Banyumanik Eka Reswati mengatakan, ada yang berbeda dari tradisi Nyadran tahun ini. Sebelum menguras sendang, warga melakukan kirab budaya terlebih dahulu dengan membawa makanan dan minuman yang dibawa dari rumah.

Selain menguras sendang, para ibu-ibu juga tampak sibuk membakar 150 ekor ayam di dekat sendang. Nantinya, ayam itu yang kemudian menjadi santapan bersama-sama.

“Tradisi nguras sendang menjadi filosofinya kita membersihkan diri dari dosa-dosa menjelang bulan puasa,” ucapnya.

Dirinya mengatakan, Nyadran di Sendang Gede merupakan salah satu kearifan lokal yang masih terus berlangsung tiap tahunnya.

BACA JUGA: Juseria, Cara SDN Pedurungan Tengah 02 Kenalkan Siswa Makanan Tradisional yang Sehat

Oleh karenanya, ia berharap jika kearifan lokal yang ada di Pudak Payung ini bisa di wariskan segara turun temurun.

Selain itu, juga tetap lestari karena tradisi Sadranan Ini merupakan salah satu potensi budaya yang ada di Kelurahan Pudak Payung.

“Kami di sini ikut melestarikan kebudayaan dengan cara kita. Pemerintah punya peran penting dalam mendukung budaya Nyadran ini,” tandasnya. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp