Cerita semakin emosional ketika Alex mengingat Iqbal. Ia mengenang sahabatnya meminta izin memetik Edelweiss. “Iqbal ingin bunga itu sebagai simbol permintaan maaf,” ujar Alex lirih.
Menurut Alex, konflik perasaan melatarbelakangi niat tersebut. Hubungan persahabatan mereka sempat teruji oleh perasaan cinta. Namun, Alex menegaskan tidak ada niat buruk.
“Persahabatan kami sangat kuat sebelum pendakian,” katanya. Ia mengaku rasa bersalah masih membekas hingga kini. Setiap ingatan Slamet selalu memunculkan luka lama.
Kisah tersebut menunjukkan betapa Gunung Slamet menyimpan risiko serius. Keindahan alam sering menutupi bahaya nyata. Oleh sebab itu, kesiapan mental dan fisik menjadi keharusan.
BACA JUGA: Nekat Mendaki Gunung Slamet Tanpa Izin Orangtua, Naomi: Kejadianku Jadi Pembelajaran
Tragedi hilangnya Syafiq Ali kembali membuka luka kolektif. Komunitas pendaki menyerukan peningkatan kesadaran risiko. Gunung Slamet tetap memesona, namun kewaspadaan harus selalu menyertai.
Melalui refleksi panjang, Tragedi Gunung Slamet menjadi pengingat keras. Alam menuntut rasa hormat serta persiapan matang. Setiap langkah pendakian membawa tanggung jawab besar. (*)





