Jateng

Ungkap Pengalaman Pahit, Seniman Wanita Ajak Korban Kekerasan Seksual Berani Bicara

×

Ungkap Pengalaman Pahit, Seniman Wanita Ajak Korban Kekerasan Seksual Berani Bicara

Sebarkan artikel ini
seniman teather semarang
Seniman teater Semarang, Nila Dianti usai acara diskusi Ruang Aman bagi Seniman di Kota Semarang di Gedung Kesenian Ki Narto Sabdo TBRS, Sabtu, 25 Juli 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Seniman teater Semarang, Nila Dianti, mengajak perempuan dan para pelaku seni untuk berani berbicara apabila mengalami kekerasan seksual maupun bentuk kekerasan lainnya. Menurutnya, pengalaman menjadi korban dapat meninggalkan luka yang membekas seumur hidup apabila terpendam sendiri.

Pesan tersebut Nila sampaikan saat menjadi narasumber dalam diskusi dan peluncuran kanal pengaduan “Suarakan, Lindungi, Lawan” yang digelar Dewan Kesenian Semarang (Dekase) bersama Yayasan Sahwahita di Gedung Kesenian Ki Narto Sabdo, Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) pada Sabtu, 25 Juli 2026.

“Harus tahu bahwa itu akan membuat penyesalan besar kalau tidak kita omongkan. Kita sebagai korban kekerasan seksual mungkin tidak akan sembuh seumur hidup. Walaupun sudah bisa beraktivitas, pengalaman itu akan tetap ada,” kata Nila kepada beritajateng.tv.

Ia mengimbau para korban agar tidak memendam pengalaman pahit tersebut sendirian. Menurutnya, korban bisa memulai dengan menceritakan kepada orang yang ia percaya atau bahkan menuliskannya terlebih dahulu sebelum meminta pendampingan.

“Tolong sadari sebelum menyesal. Silakan berbicara dengan siapa pun yang membuat kamu nyaman, atau mungkin ditulis dulu lalu diberikan kepada orang yang dipercaya. Pelan-pelan tidak apa-apa, yang penting jangan sampai menyesal di kemudian hari,” ujarnya.

Pernah Mengalami Pengalaman Tak Menyenangkan

Nila juga mengaku pernah mengalami pengalaman yang berkaitan dengan persoalan persetujuan (consent) saat masih kecil bersama sesama pelaku seni. Namun, peristiwa tersebut terjadi di luar proses berkesenian.

“Kalau saya pernah waktu kecil. Itu bukan dalam proses pengkaryaan, tetapi masih sama-sama dengan seniman. Persoalan consent memang cukup tricky karena kadang teranggap suka sama suka,” ungkapnya.

BACA JUGA: Catat 198 Kasus Sepanjang 2026, Polda Jateng: Kekerasan Seksual di Ponpes Sangat Mengkhawatirkan

Meski pernah mengalami pengalaman tersebut, Nila mengaku hingga kini masih merasa aman dalam lingkungan teater tempatnya berkarya karena setiap proses berdasarkan persetujuan semua pihak.

“Kalau di lingkungan saya, selama proses pengkaryaan masih dalam persetujuan bersama. Jadi saya merasa aman,” tuturnya.

Kesadaran Meningkat, Kekerasan Masih Terjadi

Nila yang telah berkecimpung di dunia teater sejak 2012 menilai isu kekerasan seksual sebenarnya sudah ada sejak lama. Namun, kini semakin banyak masyarakat bicarakan karena meningkatnya kesadaran masyarakat dan masifnya informasi melalui media sosial.

“Kalau isu kekerasan seksual memang dari dulu sudah ada. Sekarang terasa lebih banyak karena media sosial sudah sangat masif. Yang berubah menurut saya adalah kesadarannya. Teman-teman mulai tahu batasan mana yang termasuk tindakan kekerasan seksual,” jelasnya.

Meski demikian, ia menilai masih banyak korban yang memilih diam. Bahkan, sebagian pelaku seni masih menganggap beberapa tindakan sebagai sesuatu yang wajar sehingga ternormalisasi.

“Pengetahuannya memang sudah bertambah, tapi masih ada yang merasa tindakan itu bisa di normalisasikan. Itu yang masih menjadi persoalan,” katanya.

Intimidasi dan Relasi Senior-Junior

Selain kekerasan seksual, Nila menyoroti intimidasi dan relasi kuasa di lingkungan seni sebagai persoalan yang perlu mendapat perhatian.

Menurutnya, dalam proses latihan maupun pementasan teater, seorang aktor terkadang diminta melakukan adegan yang dianggap melewati batas kenyamanan. Kondisi tersebut harus dikomunikasikan agar tidak menimbulkan tekanan.

“Misalnya dalam pengadegan ada adegan yang menurut aktornya sudah melewati batas atau terlalu vulgar. Itu harus dibicarakan. Jangan sampai karena relasi senior dan junior, seseorang merasa tidak bisa menyampaikan pendapat,” ujarnya.

BACA JUGA: KPID Jateng: Eksploitasi Sensualitas Perempuan Masih Banyak di TV

Ia menilai intimidasi dalam proses berkarya merupakan bentuk kekerasan yang tidak selalu berkaitan dengan aspek seksual, tetapi tetap dapat berdampak pada kondisi psikologis seseorang. (*)

Editor: Farah Nazila

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp