Di sisi lain, siswa juga menunjukkan kepedulian terhadap pelestarian budaya melalui karya “Nada Lestari Bangsa Berdikari”. Yakni berupa pertunjukan karawitan dan “Pesona Caping Tradisional” yang mengangkat kearifan lokal.
Sementara itu, proyek “Tidur Awal Bangun Optimal” yang merupakan bagian dari program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) memperlihatkan bagaimana pembelajaran juga diarahkan untuk membangun pola hidup sehat dan disiplin sejak usia remaja.
Pendidikan Karakter Lewat Karya Nyata
Hermien menilai proses berkarya menjadi ruang efektif bagi siswa untuk membangun karakter yang sulit terukur melalui ujian tertulis.
“Jangan pernah takut untuk berinovasi. Karena melalui proses berkarya inilah karakter kepemimpinan, kemandirian, dan kerja sama kalian dibentuk,” pesannya kepada para siswa.
Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan pengembangan potensi peserta didik tidak terlepas dari kolaborasi antara sekolah dan orang tua.
“Kolaborasi antara sekolah dan orang tua/wali murid adalah kunci keberhasilan anak-anak kita dalam mengembangkan bakat mereka secara optimal,” ungkapnya.
BACA JUGA: Siap Hadirkan Para Aktor Berbakat! Simak Yuk Daftar Pemain Film Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis
Melalui Perayaan Belajar Kokurikuler ini, SMP Institut Indonesia Semarang menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya soal pencapaian akademik. Kemampuan mengelola sampah, melestarikan budaya, membangun kebiasaan sehat. Hingga menghasilkan karya kreatif menjadi bagian penting dari kompetensi yang dibutuhkan siswa untuk menghadapi tantangan masa depan. (*)
Editor: Farah Nazila





