SEMARANG, beritajateng.tv – Di tengah dominasi penilaian akademik dan angka rapor, SMP Institut Indonesia Semarang memilih menampilkan wajah pendidikan yang berbeda. Melalui Perayaan Belajar Kokurikuler Tahun Ajaran 2025/2026, sekolah ini menjadikan karya nyata siswa sebagai indikator perkembangan potensi dan karakter mereka.
Mengusung tema “Menggali Potensi Diri Melalui Kokurikuler”, kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekolah tersebut menampilkan berbagai hasil proyek pembelajaran yang menggabungkan pengetahuan akademik dengan keterampilan hidup atau life skills.
Berbeda dari pameran sekolah pada umumnya, kegiatan ini tidak hanya memamerkan hasil karya, tetapi juga memperlihatkan bagaimana siswa belajar memecahkan masalah, berkolaborasi, hingga mengembangkan kreativitas melalui proyek-proyek yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kepala SMP Institut Indonesia Semarang, Hermien Budiwismaningrum, mengatakan bahwa kokurikuler bukan sekadar pelengkap kegiatan belajar mengajar.
“Kegiatan kokurikuler bukan sekadar sebagai pelengkap, melainkan wadah penting di mana murid dapat mengintegrasikan berbagai mata pelajaran. Yakni dengan keterampilan hidup [life skills],” ujarnya kepada beritajateng.tv pada Sabtu, 20 Juni 2026.
BACA JUGA: Festival Waisak Anak 2026, Ajang Anak Buddhis Kembangkan Bakat dan Belajar Berbagi
Menurut Hermien, perayaan tersebut menjadi momentum untuk melihat secara langsung proses dan hasil pembelajaran yang telah siswa jalani selama satu tahun.
“Hari ini adalah momen selebrasi yang sangat berharga untuk melihat langsung hasil karya, proyek, dan kreativitas yang telah anak-anak ciptakan selama proses pembelajaran. Ini adalah bukti nyata dari kerja keras, kolaborasi, dan semangat pantang menyerah,” katanya.
Dari Sampah Jadi Uang hingga Pelestarian Budaya
Salah satu hal menarik dalam perayaan ini adalah keberagaman proyek yang siswa tampilkan. Tidak hanya berorientasi pada kreativitas, tetapi juga menyentuh isu lingkungan, budaya, dan pembentukan kebiasaan positif.
Beberapa karya yang dipamerkan antara lain “Sumpah Beruang (Sulap Sampah Berubah Uang)”, yang mengajarkan pengelolaan sampah bernilai ekonomi, serta “Pojok Busana Daur Ulang” yang menampilkan pemanfaatan limbah menjadi produk fesyen kreatif.
Di sisi lain, siswa juga menunjukkan kepedulian terhadap pelestarian budaya melalui karya “Nada Lestari Bangsa Berdikari”. Yakni berupa pertunjukan karawitan dan “Pesona Caping Tradisional” yang mengangkat kearifan lokal.
Sementara itu, proyek “Tidur Awal Bangun Optimal” yang merupakan bagian dari program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) memperlihatkan bagaimana pembelajaran juga diarahkan untuk membangun pola hidup sehat dan disiplin sejak usia remaja.
Pendidikan Karakter Lewat Karya Nyata
Hermien menilai proses berkarya menjadi ruang efektif bagi siswa untuk membangun karakter yang sulit terukur melalui ujian tertulis.
“Jangan pernah takut untuk berinovasi. Karena melalui proses berkarya inilah karakter kepemimpinan, kemandirian, dan kerja sama kalian dibentuk,” pesannya kepada para siswa.
Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan pengembangan potensi peserta didik tidak terlepas dari kolaborasi antara sekolah dan orang tua.
“Kolaborasi antara sekolah dan orang tua/wali murid adalah kunci keberhasilan anak-anak kita dalam mengembangkan bakat mereka secara optimal,” ungkapnya.
BACA JUGA: Siap Hadirkan Para Aktor Berbakat! Simak Yuk Daftar Pemain Film Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis
Melalui Perayaan Belajar Kokurikuler ini, SMP Institut Indonesia Semarang menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya soal pencapaian akademik. Kemampuan mengelola sampah, melestarikan budaya, membangun kebiasaan sehat. Hingga menghasilkan karya kreatif menjadi bagian penting dari kompetensi yang dibutuhkan siswa untuk menghadapi tantangan masa depan. (*)
Editor: Farah Nazila





