Pendidikan

UNNES Satukan Tradisi dan Misi Sosial Lewat Pagelaran Adat Jawa-Akad Nikah Massal

×

UNNES Satukan Tradisi dan Misi Sosial Lewat Pagelaran Adat Jawa-Akad Nikah Massal

Sebarkan artikel ini
unnes mantu 2026
Pagelaran Unnes Mantu 2026 di Kampung Budaya UNNES, Sabtu, 20 Juni 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Universitas Negeri Semarang (UNNES) kembali menggelar UNNES Mantu 2026, sebuah pergelaran budaya yang menampilkan lima gaya pengantin Jawa sekaligus menjadi ajang praktik mahasiswa dalam mengelola prosesi pernikahan secara profesional.

Pergelaran berlangsung meriah dengan latar panggung bernuansa Jawa klasik. Terlihat panggung dihiasi ukiran kayu khas Jawa dengan ornamen floral berwarna putih dan merah muda.

Sejumlah pasangan model pengantin bergantian mengenakan busana adat Jawa lengkap, duduk di pelaminan yang dirancang menyerupai prosesi pernikahan tradisional. Peran orang tua serta tata dekorasi yang detail semakin memperkuat nuansa budaya dalam acara tersebut.

Dosen Pembimbing UNNES Mantu 2026, Didik Supriadi, menjelaskan bahwa tahun ini pergelaran menghadirkan lima gaya pengantin yang merepresentasikan tradisi pernikahan Jawa.

“Pergelaran pengantin ada lima gaya. Dari gaya Surakarta ada empat gaya, yaitu Sentana Dalem, Karaton Surakarta, Saudagar, dan gaya masyarakat umum. Kemudian satu lagi gaya Yogyakarta,” ujarnya saat beritajateng.tv temui pada Sabtu, 20 Juni 2026.

BACA JUGA: Viral Dugaan Kekerasan Seksual Verbal Mahasiswa UNNES di Medsos, Kampus Sebut Ada Tiga Korban

Menurut Didik, kegiatan ini merupakan bagian dari luaran mata kuliah Panatacara yang diikuti mahasiswa Program Studi Sastra Jawa, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNNES.

Sebanyak 96 mahasiswa terlibat dalam penyelenggaraan acara. Selain mahasiswa FBS, kegiatan juga melibatkan mahasiswa dari fakultas lain sebagai model pengantin.

“Mahasiswa yang terlibat sekitar 96 orang atau lima rombongan belajar. Model-model pengantin juga ada yang dari Fakultas Olahraga dan Fakultas Ekonomi karena kebutuhan peran dalam pergelaran,” kata Didik.

Tidak hanya menjadi peserta praktik akademik, mahasiswa juga bertindak sebagai penyelenggara acara layaknya wedding organizer profesional.

“Mereka menjadi manajemen produksi. Jadi seperti wedding organizer, mulai menyiapkan kegiatan sejak tiga hari sebelum acara hingga pelaksanaan hari ini,” jelasnya.

Visualisasi Naskah Jawa Kuno

Didik menuturkan tantangan terbesar dalam kegiatan ini adalah menghadirkan prosesi yang sesuai dengan referensi sejarah dan budaya Jawa. Mahasiswa harus melakukan riset terhadap berbagai sumber, termasuk naskah klasik seperti Serat Centhini yang penulisannya pada tahun 1800-an.

“Pergelaran ini memvisualisasikan naskah-naskah Jawa kuno yang tertulis dalam Serat Centhini dan referensi lainnya, sehingga penyajian sesaji maupun urutan acara bisa ditampilkan secara autentik,” ungkapnya.

Untuk mendukung keaslian prosesi, UNNES juga menggandeng sejumlah vendor rias pengantin profesional di Kota Semarang.

“Kami tidak mengajarkan rias pengantin, sehingga bekerja sama dengan vendor-vendor profesional untuk mendukung pergelaran ini,” tambahnya.

Inisiasi Nikah Massal untuk Bantu Masyarakat

Selain pergelaran budaya, tahun ini UNNES juga menginisiasi program akad nikah massal yang menjadi bagian dari konsep kampus berdampak.
Sebanyak 23 pasangan mendaftar untuk mengikuti program tersebut. Namun, baru sembilan pasangan yang berhasil dinikahkan pada tahap pertama. Sementara sisanya masih menunggu penyelesaian berbagai persyaratan administrasi.

“Kami menggagas akad nikah massal sebagai bentuk kampus berdampak untuk membantu masyarakat yang belum memiliki buku nikah dan menghadapi kendala administrasi kependudukan,” ujar Didik.

Menurutnya, kepemilikan dokumen pernikahan yang sah sangat penting untuk mendukung berbagai kebutuhan administrasi keluarga, termasuk pendidikan anak.

BACA JUGA: Pegadaian Kanwil XI Semarang Kick Off Business Case Competition di Unnes, Ajak Mahasiswa Ciptakan Solusi Finansial

Peserta akad nikah massal mayoritas berasal dari Kota Semarang dan Kabupaten Semarang, dengan peserta terjauh berasal dari Demak dan Salatiga.

UNNES berencana melanjutkan program tersebut pada 2027 dengan kuota yang lebih besar dan melibatkan lebih banyak mitra.

“Kami berharap program ini bisa berlanjut tahun depan dengan kuota yang lebih banyak sehingga manfaatnya semakin luas bagi masyarakat,” pungkasnya. (*)

Editor: Farah Nazila

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp