“Yang dirasakan adalah demam tinggi, badannya sakit semuanya, ngilu. Yang membahayakan virus ini menyerang saluran napas. Gagal napas, seperti kayak orang pneumonia atau radang paru. Hati-hati,” kata Hakam.
Hingga saat ini belum tersedia antivirus khusus untuk menangani Hantavirus. Penanganan medis lebih difokuskan pada peningkatan daya tahan tubuh pasien dan pengurangan gejala klinis yang muncul.
“Karena ini virus, sebenarnya yang paling penting adalah sistem kekebalan tubuh pasien. Antivirus khusus Hantavirus memang belum ada,” ujarnya.
Pasien yang menjalani perawatan di puskesmas maupun rumah sakit akan mendapatkan terapi suportif seperti menjaga kondisi tubuh tetap stabil, pemberian obat penurun gejala, serta pemenuhan nutrisi dan cairan tubuh.
“Pasien harus mau makan, minum, dan mengonsumsi obat agar kondisi tubuh tetap baik. Kalau imunitasnya tinggi, virusnya pasti akan mati dengan sendirinya,” katanya.
Namun, apabila infeksi sudah menyerang saluran pernapasan dan menyebabkan gagal napas, pasien akan mendapatkan penanganan intensif. Termasuk pemberian alat bantu pernapasan hingga perawatan di ruang intensive care unit (ICU).
“Seorang dokter pasti akan tahu gejala orang mau gagal napas melalui pemeriksaan medis, termasuk blood gas analysis atau analisis gas darah. Kalau kondisinya mendekati gagal napas, maka akan dipersiapkan masuk ICU atau ruang perawatan khusus,” ujar Hakam. (*)





