SEMARANG, beritajateng.tv – Sedikitnya 19 rumah milik warga di RT 06 RW 05, Kelurahan Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, retak dan mengalami kerusakan pada dinding dan lantai imbas proyek Pakuwon.
Warga menduga kerusakan tersebut berkaitan dengan aktivitas dua proyek besar yang berlangsung bersamaan di kawasan Gombel, yakni pembangunan Superblok Pakuwon dan proyek perbaikan Jalan Turunan Gombel.
Sejumlah warga mulai mengkhawatirkan kondisi rumah mereka karena keretakan yang terus membesar dalam beberapa bulan terakhir.
Warga juga mengeluhkan debu dan suara bising dari aktivitas proyek yang berlangsung hampir setiap hari.
Salah satu warga terdampak, Parjono (70), menunjukkan sejumlah retakan yang muncul di berbagai bagian rumahnya. Mulai dari ruang tamu, kamar tidur hingga area belakang bangunan. Bahkan sebagian lantai rumahnya terlihat menggelembung sejak masifnya pembangunan proyek di kawasan Gombel Lama berjalan.
Parjono mengaku rumahnya memang pernah mengalami retakan kecil karena berada di kawasan yang terkenal akan tanah geraknya.
Namun, menurutnya, kondisi retak tersebut semakin memburuk sejak alat-alat berat mulai beroperasi dalam dua proyek besar yang berada tidak jauh dari permukiman warga.
BACA JUGA: Banyak Aduan Warga soal Proyek Pakuwon, DPRD Semarang Bakal Panggil Manajemen dan Distaru
“Sebelumnya hanya garis-garis kecil. Sekarang retakannya semakin lebar dan semakin parah. Saya jadi khawatir karena temboknya mulai remuk,” ucap Parjono.
Parjono mengatakan aktivitas pembangunan superblok Pakuwon yang berjarak hanya selemparan batu dari rumahnya kerap berlangsung hingga larut malam. Ia juga sering merasakan kondisi tanah di sekitar rumahnya semakin labil, terutama saat hujan turun.
“Kadamg kalau malam sekitar jam 01.00 dini hari pas musim hujan itu sering terasa getaran dan terdengar suara krek-krek. Besoknya itu saya langsung cek ada retakan atau nggak,” paparnya.
Selain rumah miliknya, rumah anak Parjono yang berada tepat di samping juga mengalami kerusakan serupa. Retakan terlihat di sejumlah bagian dinding dan struktur bangunan.
Ketua RT 06 RW 05, Tugimin, mengatakan dampak yang warga rasakan tidak hanya berupa kerusakan rumah. Aktivitas proyek juga menimbulkan debu yang mengganggu kesehatan dan kenyamanan lingkungan. Selain itu, penutupan Jalan Gombel Lama turut berdampak pada penurunan omzet sejumlah pelaku usaha kecil di sekitar lokasi.
Berdasarkan pendataan yang dilakukan pengurus lingkungan, terdapat 19 rumah milik 16 kepala keluarga yang mengalami kerusakan dengan tingkat yang bervariasi.
“Sebelum ada proyek itu retakannya cuman milimeter, sekarang sampai sentimeter. Bahkan di rumah Pak Parjono ada retakan yang bisa ia masuki jari tangan,” ungkap Tugimin.
Menurutnya, pihak pelaksana proyek telah melakukan pendataan awal terhadap rumah-rumah terdampak. Tim dari proyek juga telah mendokumentasikan kondisi bangunan melalui foto dan pengukuran sebagai bagian dari proses identifikasi.
Berharap Ada Kompensasi
Tugimin berharap ada kompensasi atau perbaikan yang ditanggung oleh pelaksana proyek atas kerusakan rumah-rumah warga tersebut.
“Kami berharap ada perbaikan atau kompensasi atas kerusakan rumah warga. Dampak yang dirasakan bukan hanya keretakan bangunan, tetapi juga debu dari proyek yang sangat mengganggu kenyamanan warga,” imbuhnya.
Warga berharap pemerintah dan pengembang dapat segera melakukan evaluasi serta mencari solusi agar dampak pembangunan tidak semakin meluas. Mengingat sebagian besar rumah berada di kawasan yang memiliki karakteristik tanah labil. (*)
Editor: Elly Amaliyah





