SEMARANG, beritajateng.tv – Lomba kaligrafi Al Quran Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tahun 2026 terlaksana di kampus Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.
Rektor Undip, Suharnomo mengatakan, bersyukur mendapat kepercayaan menjadi salah satu lokasi pelaksanaan MTQ Nasional XXXI tahun 2026.
Suharnomo mengatakan,, Undip berkomitmen memberikan dukungan untuk memastikan pelaksanaan lomba di lingkungan kampus berjalan dengan baik.
Dia bilang, keterlibatan Undip sebagai lokasi pelaksanaan lomba menjadi bentuk dukungan perguruan tinggi terhadap gelaran MTQ Nasional XXXI di Jawa Tengah.
“Kami sangat terima kasih diberi kepercayaan oleh Pak Gubernur untuk menjadi salah satu venue MTQ nasional. Kami sangat bangga dan sangat support sebisa-bisanya, sebagus-bagusnya untuk kesuksesan MTQ yang ada di Jawa Tengah,” katanya, Senin, 14 September 2026.
380 Peserta Ikuti Lima Golongan Lomba Kaligrafi
Direktur Lembaga Kaligrafi Al Quran (Lemka) KH Didin Sirojuddin AR mengatakan, lomba kaligrafi MTQ XXXI diikuti sekitar 380 peserta dari berbagai provinsi.
Setiap provinsi, kata dia, mengirimkan peserta untuk mengikuti lima golongan yang masing-masing terdiri atas kategori putra dan putri.
“Jadi masing-masing provinsi itu mengirimkan 10. Karena lomba ini terdiri dari lima golongan putra dan putri. Jadi, jumlah keseluruhan itu ya 380, lebih kurang sedikit ya,” katanya.
Adapun lima golongan yang menjadi perlombaan kaligrafi Al Quran, yakni naskah, hiasan mushaf, dekorasi, kontemporer, dan digital.
Golongan naskah merupakan tulisan hitam putih. Sementara hiasan mushaf mencerminkan halaman awal Surat Al-Fatihah dan Al-Baqarah.
Kemudian, golongan dekorasi lebih menampilkan aksesoris untuk bagian interior maupun eksterior. Sedangkan golongan kontemporer menggunakan gaya baru yang melepaskan diri dari kaidah tulisan lama.
Sementara golongan digital menjadi perkembangan terbaru dalam lomba kaligrafi. Pada kategori tersebut, peserta membuat tulisan dan lukisan kaligrafi menggunakan komputer, bukan pulpen, cat, atau tinta.
BACA JUGA: Meriahkan MTQ Nasional, Pemkot Semarang Gelar Nostalgia Dugderan dan Bazaar Kauman Kampung Quran
Penilaian Kaligrafi Utamakan Ketepatan dan Keindahan Huruf
Didin mengatakan, penilaian lomba kaligrafi mencakup tiga aspek. Tiga aspek memiliki presentasi nilai-nilai terssendiri. Khusus pada golongan hiasan mushaf dan dekorasi, unsur huruf mendapatkan porsi penilaian lebih besar dibandingkan hiasan.
“Yang pertama, kebenaran kaidah huruf. Yang kedua, keindahan huruf. Dan yang ketiga, keindahan hiasan. Tapi kalau dijumlah, huruf itu mendapatkan porsi penilaian 60% maksimal. Sedangkan hiasan 40. Itu berarti huruf itu lebih diutamakan daripada hiasan,” katanya.
Komposisi tersebut, ucap Didin, menunjukkan ketepatan dan keindahan tulisan tetap menjadi unsur utama dalam penilaian karya kaligrafi. Selain aspek penilaian, Didin mengatakan karya yang dilombakan dalam MTQ Nasional dibuat secara langsung oleh peserta.
Hal itu menjadi salah satu pembeda dengan sejumlah lomba kaligrafi internasional yang memberikan waktu pengerjaan karya jauh lebih panjang sebelum dikirimkan kepada panitia.
“Jadi karya-karya yang ditampilkan itu memang secara direct dilakukan dan ditulis. Ini berbeda dengan lomba-lomba kaligrafi internasional yang jumlahnya ada 20. Mereka itu mengirimkan karya dalam jangka 4 bulan, 6 bulan, bahkan ada yang 1 tahun sekali. Tapi hanya di Indonesia lomba kaligrafi itu langsung,” katanya.
Sejarah MTQ 1979
Lebih jauh, kata Didin, pelaksanaan MTQ XXXI di Semarang juga membawa Didin kembali pada sejarah penyelenggaraan MTQ XI Tahun 1979. Saat itu, Semarang menjadi lokasi pertama digelarnya pameran seni lukis Islami dalam rangkaian MTQ.
Didin menyebut sejarah tersebut kembali berulang setelah 47 tahun. Semarang kembali menjadi lokasi pameran kaligrafi internasional dalam rangkaian MTQ XXXI Tahun 2026.
“Tadi saya bilang Pak Gubernur, niatkan bahwa tahun 1979 itu lah pertama kali diadakan pameran seni lukis Islami di MTQ ke-11 tahun 1979 di Semarang. Nah, 47 tahun kemudian sampai sekarang, kita ngadain lagi pameran, pameran kaligrafi internasional di di mall sana itu, Ciputra,” katanya.
Ahmad Luthfi Sebut MTQ sebagai Semangat Kebersamaan
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, pelaksanaan pelaksanaan MTQ kali ini, ada keterlibatan berbagai kalangan dalam rangkaian perhelatan.
Termasuk, kata dia, dari kalangan masyarakat non muslim. Di mana menunjukkan adanya semangat toleransi dan persatuan yang ingin dibangun melalui pelaksanaan MTQ di Jawa Tengah.
Luthfi mencontohkan keterlibatan pelajar dari SMA Kristen dalam kegiatan menyanyikan Mars MTQ yang berhasil memecahkan rekor MURI.
“Artinya apa? Musabaqah Tilawatil Quran milik semua masyarakat. Inilah bentuk Rahmatan Lil Alamin, ada toleransi beragama sangat dijunjung sekali, semuanya bersatu,” katanya.
Dia mengatakan, pelaksanaan MTQ XXXI di Jawa Tengah tidak berhenti sebagai ajang perlombaan keagamaan. Lebih jauh, kegiatan tersebut diharapkan dapat membawa pesan perdamaian dari Jawa Tengah untuk masyarakat Indonesia.
“Semoga dengan adanya MTQ yang ke-31 Jawa Tengah memberikan syiar perdamaian dari Jawa Tengah kepada seluruh Indonesia,” katanya. (*)
Editor: Diaz A Abidin





