SEMARANG, beritajateng.tv – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mendorong agar upaya pembiayaan hijau ramah lingkungan pada Industri Kecil Menengah (IKM) tak berhenti pada forum diskusi semata.
Dia bilang, investasi awal untuk menggunakan teknologi ramah lingkungan dia nilai masih mahal. Sementara kemampuan agunan IKM relatif terbatas.
“Industri kecil ini, IKM ini rata-rata agunannya juga kecil. Sementara untuk melaksanakan industri hijau ramah lingkungan membutuhkan biaya yang besar,” katanya dalam Focus Group Discussion (FGD) Kolaborasi Strategis bertema “Mengurai Hambatan Pembiayaan Hijau pada Sektor Industri Kecil dan Menengah” yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jateng di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Senin, 28 September 2026.
BACA JUGA: Topang Kebutuhan Industri Jateng, Pembangunan Infrastruktur Logistik Tawang – Weleri – Batang Ditarget Rampung Dua Tahun
Pria yang akrab dengan sapaan Gus Yasin itu mengatakan, penggunaan teknologi hijau memang dapat membuat biaya operasional lebih efisien dalam jangka panjang.
Akan tetapi, manfaat tersebut membutuhkan waktu. Sedangkan modal harus disiapkan sejak awal.
Karena itu, da meminta hasil FGD tersebut tidak berhenti sebagai forum diskusi. Seharusnya tmenghasilkan terobosan pembiayaan yang sesuai dengan karakter IKM.
“Ini yang harus kita dorong bersama-sama dan kita carikan terobosan-terobosan,” katanya.
Industri jadi Kekuatan Ekonomi di Jawa Tengah
Gus Yasin mengatakan, pembahasan tersebut penting karena sektor industri menjadi salah satu kekuatan utama perekonomian Jawa Tengah.
Rinciannya, pada triwulan II 2026, ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,71 persen secara tahunan.
Angka ini lebih tinggi bila berbanding pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen. Secara kumulatif, ekonomi Jawa Tengah pada semester pertama 2026 tumbuh 5,80 persen.
BACA JUGA: Perkuat Ekosistem Industri, Bank Jateng Jalin Sinergi Strategis dengan KIW
Sektor industri menjadi penyumbang terbesar terhadap perekonomian Jawa Tengah dengan kontribusi 33,18 persen.
Berikutnya sektor perdagangan 13,78 persen dan pertanian 12,56 persen.
“Kita tidak cukup hanya berbicara bagaimana mempertahankan pertumbuhan,” katanya.





