Sejumlah kawasan yang menjadi sasaran penanganan antara lain Kaligawe, Tlogosari, Jalan Gajah, serta wilayah tengah dan selatan Kota Semarang. Pengerukan untuk mengurangi endapan yang berpotensi menghambat aliran air ketika hujan dengan intensitas tinggi.
Di sisi penanganan bencana, Pemkot Semarang juga memperkuat kesiapan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Posko siaga, Tim Reaksi Cepat (TRC), logistik darurat, dan peralatan operasional siap untuk mempercepat penanganan jika terjadi kondisi darurat.
Kepala BPBD Kota Semarang, Endro P. Martanto, mengatakan pihaknya telah mengoordinasikan kesiapsiagaan bersama berbagai pemangku kepentingan dan jejaring relawan.
“Kami menyiagakan posko, peralatan, serta logistik darurat secara terpadu bersama seluruh pemangku kepentingan dan jejaring relawan. Kesiapsiagaan ini krusial untuk memastikan respons cepat di lapangan jika terjadi kondisi darurat,” kata Endro.
BPBD juga memperkuat Sistem Peringatan Dini atau Early Warning System (EWS), memantau tinggi muka air secara berkala, serta memetakan wilayah rawan banjir, tanah longsor, dan angin kencang.
Upaya koordinasi lintas instansi sebelumnya diperkuat melalui Apel dan Gladi Lapang Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana pada 20 Oktober 2026. Kegiatan tersebut melibatkan TNI, Polri, pemerintah kecamatan dan kelurahan, serta jaringan relawan. (*)





