Jateng

Api Abadi Mrapen Padam, Dinas ESDM Jateng: Tak Ada yang Abadi, Gas Bukan Energi Terbarukan

×

Api Abadi Mrapen Padam, Dinas ESDM Jateng: Tak Ada yang Abadi, Gas Bukan Energi Terbarukan

Sebarkan artikel ini
wisata PurwodadiApi Mrapen
Wisata Api Mrapen di Purwodadi saat masih menyala. (Foto: Instagram/@tomsa4492)

SEMARANG, beritajateng.tv – Api Abadi Mrapen di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, dilaporkan padam sejak awal tahun 2026. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan saat ini masih melakukan penyelidikan untuk memastikan kondisi dan penyebab padamnya api yang telah menyala ratusan tahun tersebut.

Kepala Dinas ESDM Jawa Tengah, Agus Sugiharto, mengatakan pihaknya baru mengirim tim ke lapangan untuk memastikan apakah Api Abadi Mrapen benar-benar padam total atau hanya mengalami pengecilan nyala.

“Kami baru mengirim tim hari ini ke lapangan. Apakah betul-betul mati atau mengecil, itu masih kami cek. Yang jelas ini faktor alam, karena nyalanya sudah ratusan tahun,” ujar Agus saat beritajateng.tv hubungi via panggilan WhatsApp, Selasa, 3 Februari 2026.

Agus menegaskan, untuk mengetahui penyebabnya, ESDM perlu menelusuri terlebih dahulu sumber gas yang menjadi pemicu nyala api tersebut.

“Kita harus tahu dulu source gasnya dari mana, berapa besar potensinya,” kata Agus.

Dugaan Adanya Gangguan Aliran Gas dan Sedimentasi

Menurut Agus, salah satu dugaan penyebab melemahnya hingga padamnya Api Abadi Mrapen adalah terganggunya aliran gas akibat proses alam yang berlangsung dalam waktu lama.

“Bisa jadi karena perjalanan waktu, ada crack atau sumber keluarnya api itu mengalami gangguan. Bisa karena sedimentasi, kerak-kerak yang menutup saluran, sehingga alirannya terganggu,” jelasnya.

Ia menyebut, tim ESDM saat ini tengah mengupayakan penelusuran jalur gas dan potensi pembersihan apabila ditemukan sumbatan sedimen atau lumpur.

“Nanti kami cari sumbernya, kami perbaiki, kami lihat apakah memang ada gangguan atau sumbatan dari sedimen atau lumpur yang perlu dibersihkan,” ujarnya.

BACA JUGA: Nyalanya dari Api Abadi Mrapen, Obor Porprov Jateng XVI 2023 Arak-arak Bersama Perwakilan Atlet

Selain itu, ESDM juga mempertimbangkan opsi pembuatan sumur bantu untuk mengeluarkan gas, selama potensi gas di sumber tersebut masih tersedia.

“Harapannya bisa teratasi selama potensi gas dari sumbernya itu masih ada,” tambah Agus.

Kendati demikian, Agus mengingatkan bahwa secara alamiah tidak ada sumber energi yang benar-benar abadi.

“Di dunia ini tidak ada yang abadi. Gas itu sumber energi yang tidak terbarukan; kalau dimanfaatkan terus-menerus, seperti tambang atau minyak, ya lama-lama habis,” ucapnya.

Pernah Padam 2020 Silam, Api Abadi Mrapen Sempat Jalani Restorasi

Agus membenarkan, padamnya Api Abadi Mrapen bukan kali pertama terjadi. Peristiwa serupa pernah terjadi sekitar tahun 2020, atau hampir lima tahun lalu.

“Pernah terjadi juga sebelumnya, lalu kami restorasi sumbernya. Itu sekitar tahun 2020,” katanya.

Menurutnya, kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa sumber gas Api Abadi Mrapen memerlukan perawatan dan pemantauan secara berkala.

Ia menjelaskan, pada kejadian sebelumnya, permasalahan utama berada pada jalur rekahan gas yang mengalami gangguan akibat proses alam.

BACA JUGA: Selain Pemandian Alam, Berikut 5 Destinasi Wisata Purwodadi Terunik 2024

“Sebetulnya harus ada maintenance terhadap sumber gas itu. Jalur yang dilalui lewat rekahan-rekahan itu tertutup karena pelapukan kimia dan fisika. Salurannya mengecil, ditambah potensi tekanan gas dari sumbernya juga menurun,” jelas Agus.

Saat ini, ESDM masih melakukan investigasi untuk memastikan apakah sumber gas yang ada masih memungkinkan untuk dipelihara agar api dapat kembali menyala.

“Kita lihat dulu apakah sumber potensinya masih memungkinkan untuk maintain supaya bisa nyala lagi,” kata Agus.

Agus Beberkan Penjelasan Ilmiah Api Abadi Mrapen, Berasal dari Reservoir Gas

Menanggapi cerita rakyat yang menyebut Api Abadi Mrapen berasal dari tongkat Sunan Kalijaga, Agus menjelaskan secara ilmiah fenomena tersebut berasal dari gas alam.

“Kalau secara ilmiah, gampangannya sama seperti mata air. Kalau air ada akuifer, kalau migas itu ada reservoir,” terangnya.

Ia menjelaskan, terdapat reservoir gas di bawah permukaan tanah yang gasnya keluar melalui rekahan atau struktur geologi tertentu. “Gas keluar lewat crack atau rekahan-rekahan struktur yang berkembang di situ,” katanya.

Namun seiring waktu, tutur Agus, rekahan tersebut dapat terganggu oleh berbagai faktor alam. “Karena hujan, panas, pelapukan, rekahan itu bisa terisi larutan atau sedimen, sehingga tertutup dan alirannya berkurang,” ujar Agus.

Selain faktor alam, aktivitas masyarakat sekitar juga turut mempengaruhi. “Di sekitar situ banyak sumur warga yang keluar gas dan warga manfaatkan untuk memasak. Ketika makin banyak yang memanfaatkan, kemampuan reservoir gas itu juga berkurang,” pungkas Agus. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp