Di sisi lain, deflasi Januari 2026 terutama ditopang oleh penurunan harga komoditas pangan dan energi. Harga cabai merah, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, hingga bensin tercatat mengalami penurunan.
Duto menjelaskan, turunnya harga cabai tidak lepas dari berkurangnya permintaan setelah momentum Natal dan Tahun Baru berlalu.
“Permintaan sudah menurun karena dampak Nataru sudah berkurang. Itu yang menyebabkan harga cabai turun,” ujarnya.
Sementara penurunan harga bensin terpengaruh dari kebijakan pemerintah yang menurunkan harga BBM non-subsidi pada awal Januari 2026.
Meski terjadi deflasi bulanan, secara tahunan inflasi masih terpengaruhi oleh tarif listrik yang kembali normal setelah pada Januari 2025 sempat adanya diskon 50 persen.
BACA JUGA: Di Tengah Persaingan KEK, Investasi Kota Semarang 2025 Tetap Tembus Rp11,1 Triliun
“Tarif listrik bobotnya besar. Tahun lalu ada diskon, sekarang sudah tidak ada, otomatis memberikan sumbangan inflasi yang signifikan,” jelas Duto.
Selain tarif listrik, komoditas lain yang masih menyumbang inflasi tahunan di antaranya beras, mobil, dan rokok sigaret kretek mesin. Namun, secara year on year, sejumlah komoditas justru mencatat deflasi, seperti cabai merah, cabai rawit, bawang putih, telepon seluler, serta tarif kereta api yang sebelumnya sempat mendapat diskon pada periode libur akhir tahun.
Duto menegaskan, meski inflasi Kota Semarang masih terkendali, fluktuasi harga di awal tahun tetap perlu menjadi perhatian karena berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
“Secara umum kondisinya masih aman. Tapi dinamika harga di kelompok kebutuhan dasar seperti listrik dan pangan harus terus kita waspadai,” pungkasnya. (*)
Editor: Elly Amaliyah





