SEMARANG, beritajateng.tv – Ayah santriwati korban kekerasan seksual di lingkungan Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Ndolo Kusumo, Pati, Jawa Tengah mengungkap bagaimana pengasuh ponpes berinisial AS alias Ashari (52) menanamkan doktrin kepada para santri.
Orang tua korban berinisial H (52) menyebut, Ashari mendoktrin para santri untuk selalu menuruti seluruh perkataan dan tindakannya, termasuk ketika perintah tersebut mengarah pada hal negatif atau yang bersifat mesum.
“Kiai mendoktrin semua santri. Enggak cuma santri kecil, santri dewasa juga kena. Si oknum itu seolah-olah punya hak penuh, jadi santri atau anak didiknya harus manut terhadap apa yang kiai lakukan dan katakan,” ujar H dalam konferensi pers di kawasan Kota Lama Semarang, Jumat, 8 Mei 2026 sore.
Menurut pengakuan H, Ashari bahkan mengaitkan doktrin tersebut dengan unsur spiritual dan agama agar para santri tidak berani menolak. Ashari, kata H, mengaku kepada para santri bahwa arahan untuk berbuat mesum tersebut berasal dari alam gaib.
“Nah, doktrinnya itu katanya kiai mengerjakan perintah dari alam gaib untuk menyuruh muridnya. Walaupun arahnya negatif, murid harus nurut,” ungkapnya.
BACA JUGA: Korban Kyai Ashari Pati Ungkap Modus Tersangka Ajak Tidur Bareng agar “Diakui Nabi”, Awalnya Tak Curiga..
H menambahkan, Ashari mengancam para santri apabila berani melawan atau menolak perintahnya. Menurut pengakuan H, Ashari juga menanamkan keyakinan bahwa melawan guru sama dengan melawan Tuhan.
“Kalau enggak mau, enggak manut, nanti kiai memutus jalur keilmuan santri. Sebab kalau kiai sudah memutus ilmunya, katanya si kiai (Ashari) tadi, murid berani sama guru berarti berani sama Allah Subhanahu Wa Taala. Jadi murid berani kepada guru berarti perang sama Tuhan,” lanjut H.
Ayah Korban Sebut Anak Alami Pelecehan Sejak Kelas 3 SMP
H mengungkap, anaknya yang berinisial FA itu mulai masuk dan mondok di ponpes tersebut sejak 2017, saat masih duduk kelas 1 SMP. Saat itu, kata H, pondok pesantren tersebut baru mulai berkembang dan membuka sekolah sendiri.
“Mondoknya mulai 2017, kelas 1 SMP. Waktu itu belum ada SMP-nya area situ, terus mulai operasional lagi,” ujarnya.
Berdasarkan pengakuan FA kepada keluarganya, Ashari menurut dugaan melakukan kekerasan seksual sejak korban duduk kelas 3 SMP hingga lulus SMK pada 2024.
“Menurut keterangan anak saya, kiai melakukan hal itu mulai semenjak anak saya kelas 3 SMP sampai 2024. Selesai ujian, belum sampai terima ijazah, saya sudah mendampingi anak saya,” kata H.
H menyebut, Ashari mengulangi perbuatannya berkali-kali selama bertahun-tahun. H meyakini, tekanan doktrin yang kuat membuat anaknya dan santri lain yang menjadi korban sulit melawan perintah Ashari.
“Kiai (Ashari) melakukan itu sudah beberapa kali. Mulainya sekitar 2020 sampai 2024. Kalau secara normal semua anak menerima perlakuan seperti itu pasti berontak. Tapi sisi lain kiai (Ashari) sudah mendoktrin dia, jadi apa yang kiai lakukan, dia harus mau,” ujarnya.
FA Baru Berani Cerita ke Sang Ibu Setelah Lulus dari Pondok
Lebih jauh, H mengungkap anaknya baru berani menceritakan peristiwa tersebut kepada keluarga setelah lulus sekolah pada 2024. Selama bertahun-tahun, kata H, korban tidak pernah mengadu langsung kepadanya, melainkan hanya bercerita kepada sang kakak yang juga menempuh pendidikan lingkungan pondok.
“Selama 2020 sampai 2024, anak saya itu ngeluhnya enggak sama saya. Dia enggan. Tapi beberapa kali mengadu ke kakaknya,” kata H.
Ia mengaku saat itu tidak terlalu memahami kondisi anaknya karena menganggap keluhan tersebut bukan persoalan serius. Baru setelah lulus, korban akhirnya memberanikan diri bercerita kepada ibunya mengenai perbuatan sang kiai kepadanya selama mondok.
“Saya enggak terlalu memperhatikan kalau anak saya itu seolah-olah ada masalah sana. Mulai 2024 setelah lulus, dia cerita sama ibunya kalau kiai memperlakukannya seperti itu selama mondok,” ungkapnya.
Ayah Korban Mengaku Pernah Percaya dan Ikut Bantu Bangun Pondok
Lebih jauh, H mengatakan dirinya telah mengenal Ashari sejak sebelum pondok pesantren tersebut berdiri sekitar 2015 atau 2016. Menurutnya, saat itu Ashari belum memiliki pondok pesantren dan baru mulai membangun yayasan pendidikan.
“Sebelum anak saya masuk sana, saya sudah kenal sama pak kiai tadi. Waktu itu belum ada pondoknya,” ujarnya.
BACA JUGA: PWNU Jateng Tegaskan Pelaku Pencabulan Ponpes Pati Bukan Kiai NU, Gus Rozin: Dia Tabib Dukun
Lantaran percaya pada sosok Ashari, H kemudian menyekolahkan empat anaknya ke pondok tersebut. Ia bahkan mengaku sempat ikut membantu proses pembangunan pondok pesantren tersebut.
“Empat anak saya semuanya sekolah area situ. Saya juga termasuk ikut bantu bangun bangunan sana,” ujar H.
Namun setelah mendengar langsung cerita anaknya dan mencocokkan informasi dengan sejumlah santri lain, ia mulai merasakan kejanggalan terhadap perilaku Ashari.
“Saya cocokkan sama teman-teman pondok dan sekolah, ternyata enggak cocok dengan apa yang oknum tadi katakan,” jelasnya.
Saat ini, H sudah memindahkan dua anaknya yang masih sekolah dari pondok tersebut sejak 2024.
“Yang masih sekolah sekarang dua, tapi sudah enggak ada sana. Saya sudah memindahkan mereka ke sekolah lain,” tandasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





