Kesehatan

Banjir dan Genangan Air Picu Lonjakan Penyakit Anak, IDAI Ingatkan Risiko Leptospirosis hingga Dengue

×

Banjir dan Genangan Air Picu Lonjakan Penyakit Anak, IDAI Ingatkan Risiko Leptospirosis hingga Dengue

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi gambar genangan air pasca turun hujan
Ilustrasi gambar genangan air pasca turun hujan (sumber:freepik.com)

SEMARANG, beritajateng.tv – Musim hujan yang disertai banjir dan genangan air di berbagai wilayah Indonesia meningkatkan risiko penyakit menular pada anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orang tua untuk mewaspadai penyakit yang ditularkan melalui air kotor dan gigitan nyamuk, seperti leptospirosis dan demam berdarah dengue (DBD).

Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik (UKK IPT) IDAI, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, SpA, Subsp IPT(K), menjelaskan bahwa banjir menciptakan lingkungan ideal bagi bakteri, virus, dan nyamuk untuk berkembang biak.

“Air banjir yang terkontaminasi kencing tikus dapat menjadi sumber leptospirosis. Terutama bila anak memiliki luka kecil di kulit,” ujar Prof. Anggraini pada Rabu, 4 Februari 2026.

Leptospirosis tertandai dengan demam tinggi, nyeri otot terutama di betis, sakit kepala, hingga gangguan ginjal dan penyakit kuning. IDAI mencatat angka kematian leptospirosis di Indonesia masih tergolong tinggi, terutama saat musim hujan.

Selain itu, meningkatnya genangan air bersih di sekitar rumah juga mempercepat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, pembawa virus dengue. Risiko penularan makin besar karena anak-anak cenderung lebih banyak beraktivitas di dalam rumah selama musim hujan.

“Pada dengue, fase paling berbahaya justru terjadi saat demam turun, bukan saat demam tinggi,” tegas Prof. Anggraini.

BACA JUGA: Kasus Leptospirosis hingga DBD Mengintai, DPRD Semarang Serukan Waspada Saat Banjir

Orang tua diminta segera membawa anak ke rumah sakit jika muncul tanda bahaya seperti nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, mimisan, lemas ekstrem, atau perubahan kesadaran.

IDAI juga mengingatkan bahaya lain selama musim banjir. Termasuk infeksi kulit akibat jamur, risiko tetanus dari luka terbuka, serta penyakit lain yang nyamuk tularkan, seperti Japanese encephalitis dan malaria di wilayah endemis.

Sebagai langkah pencegahan, IDAI mengimbau masyarakat menghindari aktivitas di air banjir, menggunakan alas kaki tertutup, segera mandi dan mengganti pakaian setelah kehujanan, serta memastikan lingkungan rumah bebas genangan air.

Di sisi lain, IDAI menegaskan bahwa perlindungan anak tidak cukup hanya dengan menghindari banjir dan genangan. Imunisasi tetap menjadi benteng utama mencegah penyakit infeksi di musim hujan.

“Indonesia sudah memiliki jadwal imunisasi yang sangat lengkap. Tantangan terbesar kita adalah cakupan imunisasi yang masih rendah, bukan ketersediaan vaksin,” ujar Prof. Anggraini.

Sejumlah penyakit yang meningkat di musim hujan, seperti campak, rubella, influenza, hepatitis A, cacar air, hingga Japanese encephalitis, sebenarnya dapat tercegah melalui imunisasi. Rendahnya cakupan imunisasi membuat wabah mudah terjadi dan berulang setiap tahun.

IDAI menegaskan tidak ada kata terlambat untuk melengkapi imunisasi anak. Imunisasi kejar dapat berlangsung tanpa meningkatkan risiko efek samping yang berbahaya.

BACA JUGA: Puncak Musim Hujan dan Awal Masuk Sekolah, IDAI Ingatkan Risiko Influenza, Diare, DBD pada Anak

Selain imunisasi, IDAI mengajak masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Kemudian juga memastikan makanan dan minuman higienis, mencuci tangan secara rutin, menjaga ventilasi rumah, serta menghindari kerumunan saat anak sakit.

“Musim hujan membuat mikroorganisme berkembang lebih cepat. Karena itu, pencegahan harus secara menyeluruh, mulai dari lingkungan, perilaku, hingga imunisasi,” pungkas Prof. Anggraini. (*)

Editor: Farah Nazila

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp