Peristiwa

Bantah Lalai, PT MAS Buktikan Bayar Biaya Pengobatan Karyawan hingga Rp100 Juta

×

Bantah Lalai, PT MAS Buktikan Bayar Biaya Pengobatan Karyawan hingga Rp100 Juta

Sebarkan artikel ini
kecelakaan semarang
Manajer PT MAS Heri Subagio menunjukkan bukti biaya pengobatan usai memenuhi panggilan Disnakertrans Jawa Tengah, Rabu, 19 Februari 2025. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Manajemen perusahaan outsourcing PT Mahasura Amerta Sanjaya (MAS) membantah adanya kelalaian perusahaan dalam kecelakaan kerja yang melibatkan karyawan ahli dayanya, M Husyein Al Iman.

Hal itu terkait laporan ayah kandung Husyein, Teguh Margo Utomo yang melaporkan PT MAS ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Tengah pada Senin, 10 Februari 2025 lalu lantaran tidak mendaftarkan korban ke BPJS Ketenagakerjaan.

Manajer PT MAS Heri Subagio menjelaskan, perusahaan memang belum mendaftarkan korban ke BPJS Ketenagakerjaan saat kecelakaan terjadi. Akan tetapi, perusahaan telah berusaha melaksanakan kewajiban dengan mendampingi pengobatan korban.

“Memang tidak ada BPJS-nya, tapi dari awal kecelakaan karyawan tersebut sudah kami berikan perawatan di RS Kariadi, dengan sudah hampir mencapai Rp100 juta lebih,” kata Heri saat beritajateng.tv temui di Disnakertrans Jawa Tengah, Rabu, 19 Februari 2025.

BACA JUGA: Warga Semarang Kecelakaan hingga Lumpuh, Begini Kata Jamkeswatch Jawa Tengah

Setelah kecelakaan terjadi, lanjut Heri, perusahaan langsung mendaftarkan korban ke BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Hal itu untuk membantu proses pemulihan korban.

“Sampai hari ini kontrol pun kami sudah bisa back up melalui BPJS Kesehatan yang baru kita daftarkan. Sampai hari ini kita tangani,” sambungnya.

Ia menegaskan jika perusahaannya berkomitmen akan bertanggung jawab sepenuhnya atas kejadian ini. Namun, sebagai pihak ketiga, PT MAS hanya mengikuti regulasi yang diberikan oleh pemberi kerja, dalam hal ini perusahaan mebel di kawasan Industri Candi berinisial O.

“Perlindungan upah, BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, itu semua akumulasinya dari pemberi kerja. Jika tidak terpenuhi pemberi kerja juga menyalahi peraturan perundang-undangan,” kata dia.

Korban kecelakaan merupakan cleaning service

Lebih jauh, Heri menjelaskan jika dalam perjanjian kontrak, PT O mempekerjakan korban sebagai karyawan di bagian cleaning service atau office boy. Namun, saat kejadian, korban mendapat perintah untuk membuka gerbang.

Hal itu yang kemudian menyebabkan korban terlibat dalam insiden kecelakaan kerja hingga akhirnya mengalami kelumpuhan.

“Perintah kerjanya itu office boy atau cleaning service. Tapi (saat kecelakaan) korban di perintah untuk membuka pintu gerbang. Dari sebab itulah terjadi kecelakaan, yang seharusnya itu bukan kewajiban office boy, jadi jobdesknya salah,” papar Heri.

Sebagai perusahaan ahli daya tempat korban bekerja, Heri menekankan jika PT MAS tidak akan lari dari tanggung jawab dan menaruh perhatian penuh pada masa depan korban.

BACA JUGA: Panitia Ungkap Kronologi Kecelakaan Pacuan Kuda Jateng Derby 2025

Oleh karenanya, pihaknya meminta PT O sebagai pemberi kerja untuk ikut bertanggung jawab.

“Ketika kami salah sanksi kami hanya administrasi, tapi bagaimana dengan korban? Tinggal sekarang bagaimana caranya santunan yang wajib diberikan kepada korban atas luka atau cacat fungsi yang dia derita,” tandasnya. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp