Ia mengaku pernah mengirim pupuk kascing hingga 20 ton per bulan untuk kebutuhan pembibitan sawit di Sumatera.
“Jadi kami kembangkan terus, hingga saat ini produksinya bisa mencapai 25 ton per bulan. Kami juga mengirim sampai ke Sumatera untuk pembibitan sawit,” terang Sriyanto.
Sriyanto mengatakan, pengiriman dalam jumlah besar tersebut terjadi ketika pasar lokal belum banyak mengenal pupuk organik kascing. Namun saat ini pengiriman ke Sumatera mulai berkurang lantaran permintaan dari petani lokal terus meningkat.
“Dulu saat awal-awal, karena pasar lokal belum ada yang beli, kami bisa kirim ke sawit sekitar 20 ton sebulan. Itu sekitar tahun 2020, tapi saat ini sudah kami kurangi, hanya 8 ton per bulan. Sebab pasar lokal kami sudah banyak yang ingin menggunakan pupuk kascing,” lanjut Sriyanto.
BACA JUGA: Imbau Warga Tak Cuci Jeroan Kurban di Sungai, Distanak Jateng: Bisa Dijadikan Pupuk Organik
Sriyanto menuturkan, kesadaran petani terhadap pertanian ramah lingkungan mulai meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, semakin banyak petani yang ingin mengembalikan kesuburan tanah melalui penggunaan pupuk organik.
“Petani-petani lokal sekarang banyak yang minat dengan pertanian organik. Mungkin karena saya juga sebagai petani milenial, jadi saya terus mengenalkan pertanian organik dan ramah lingkungan,” tuturnya.
Ia mengatakan, para petani mulai menyadari pentingnya menjaga kualitas tanah untuk jangka panjang.
“Mereka ingin mengolah lahan dengan bagus, ingin tanahnya gembur seperti semula. Sekarang wilayah Jawa Tengah sampai Jawa Timur sudah mulai menggunakan pupuk organik. Masyarakat berlomba-lomba menggunakan yang organik,” katanya.
Kotoran Sapi dan Kambing Bisa Jadi Pupuk dalam 15 Hari
Bahan baku pupuk kascing berasal dari limbah peternakan yang selama ini sering 𝖽ianggap tidak memiliki nilai ekonomi. Sriyanto menjelaskan proses pembuatannya relatif sederhana dan tidak membutuhkan waktu lama.
“Awal mulanya dari limbah biogas, atau bisa langsung dari kotoran sapi dan kotoran kambing,” ujarnya.





