BACA JUGA: Mall Pet Friendly Timbulkan Pro dan Kontra, Komunitas Anjing Semarang: Kami Ingin Diterima Masyarakat
Kecintaan Lily terhadap anjing sebenarnya sudah tumbuh sejak duduk di bangku SMP. Dia sempat berhenti memelihara anjing selama beberapa tahun sebelum kembali memelihara anabul pada 2021.
“Saya suka anjing besar. Kalau anjing kecil menurut saya cerewet, kalau besar kan tidak, lebih tenang,” katanya.
Denver kemudian menjadi salah satu anjing yang paling sering dibawa Lily mengikuti aktivitas di luar rumah. Karakternya yang tenang dan mudah diarahkan membuat Denver cukup nyaman berada di tengah keramaian.
Tantangan Anjing Alaskan Malamute
Meski demikian, menjadi anjing berukuran raksasa di Kota Semarang bukan tanpa tantangan. Suhu pendingin ruangan 16 derajat selalu menyala untuk mendinginkan suhu ruang yang anjing tersebut tinggali.
Ya, sebagai anjing yang memiliki karakteristik ras dari wilayah dingin, Denver membutuhkan penanganan khusus ketika tinggal di daerah tropis.
BACA JUGA: Bukan Makan Bergizi Gratis, Seratus Anjing Lebih Ramaikan MBG ‘Mlaku Bareng Guguk’ di Semarang
Lily memastikan Denver berada di ruangan berpendingin udara ketika di rumah. Suhu AC bahkan harus sekitar 16 derajat Celsius dan lengkap dengan kipas berkecepatan tinggi.
“Anjing ini kan anjing es, jadi AC wajib. Di rumah AC nyala terus ditambah kipas high speed. Suhunya diset 16 derajat,” ucap Lily.
Latihan Fisik
Perhatian terhadap suhu tubuh Denver bukan tanpa alasan. Paparan panas berlebihan dapat meningkatkan risiko heatstroke pada anjing.
Karena itu, meski membutuhkan aktivitas fisik, Denver tidak sembarangan diajak keluar rumah saat cuaca terik.
Lily biasanya mengajak Denver berjalan dua kali sehari, yakni pada pagi dan sore menjelang malam.
Selain aktivitas fisik, kebutuhan makanan Denver juga mendapat perhatian khusus. Dalam sehari, dia mengonsumsi sekitar 1,2 hingga 1,5 kilogram makanan berbahan daging yang dipesan khusus dari Bandung.\





