Gaya Hidup

Blak-blakan Dokter Tirta Ungkap Pengalamannya saat Koas hingga Gaji Dokter: Sengsara!

×

Blak-blakan Dokter Tirta Ungkap Pengalamannya saat Koas hingga Gaji Dokter: Sengsara!

Sebarkan artikel ini
dokter tirta
Dokter Tirta membagikan pengalamannya saat menjalani pendidikan kedokteran. (YouTube/Feni Rose Official)

SEMARANG, beritajateng.tv – Di tengah ramainya perbincangan terkait pendidikan kedokteran, dr. Tirta Mandira Hundhi atau yang dikenal sebagai Dokter Tirta memberikan sebuah cerita menarik. Ia membagikan pengalamannya saat menempuh pendidikan dokter.

dr. Tirta mengungkap dokter merupakan profesi yang sengsara.

“Justru saat itu aku tahu, itu kalau jadi dokter, tapi gak jadi spesialis, sengsara,” beber dia.

Saat masih berstatus sebagai dokter koas, dr. Tirta mengaku sebagai saksi pemberlakuan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

Adapun pria yang akrab dengan sapaan Cipeng itu menyebut bahwa BPJS pertama kali JKN berlakukan di tahun 2013 – 2014.

“Saat yang 2014, 2013 pas co-ass itu, 2014 pertama kali BPJS diberlakukan JKN.” kata dr. Tirta seperti beritajateng.tv kutip dari kanal YouTube Feni Rose Official pada Senin, 19 Agustus 2024.

“Aku ingat banget 1 Januari 2014 itu titik kalau gak salah JKN mulai aktif, itu udah chaos banget, antrean BPJS panjang saat itu.”

BACA JUGA: Miris Pendidikan Kedokteran di Indonesia, Dokter Ini Ungkap Dugaan Praktik Perbudakaan: Keluar, Denda Miliaran!

Dengan adanya antrean yang menimbulkan ‘kekacauan’ tersebut, dr. Tirta menyadari bahwa kedokteran merupakan profesi yang tak memiliki kepastian.

Ia yang sebelumnya menganggap dokter akan mendapati gaji dua digit, harus menelan pil pahit setelah melihat kenyataannya.

“Kupikir setelah jadi dokter umum kelar, kita di puskesmas, ambil 3 SIP, satu dokter-dokter kita udah bisa dapat gaji Rp 30-40 (juta), ternyata enggak,” ujarnya.

“Saat itu uang duduk (uang jaga) aja masih Rp 100-150 ribu sehari,” ungkap dia.

Pria 33 tahun itu pun menyayangkan hal itu, terlebih ia yang sudah mengorbankan uang dan waktunya untuk mendapati pendidikan kedokteran.

“Lebih ke waktu yang harus terkorbankan, ternyata dapat ganjaran segitu. Dan ketika kita komplain soal uang, masyarakat bilang kan ini pengabdian. Ya jelas pengabdian, tapi kan aku butuh duit,” tegasnya.