“Sebanyak lima keluarga mengungsi, terutama yang memiliki anak kecil. Sementara yang lain masih bertahan di rumah, dengan barang-barang yang bisa kita tinggikan agar tidak terendam,” paparnya.
Selain menghambat aktivitas sehari-hari, banjir di Kudu juga berdampak pada kesehatan warga. Rofiq melaporkan adanya kasus penyakit kulit dan batuk pilek di antara warga.
“Banyak yang mulai gatal-gatal, termasuk saya sendiri. Satu anggota keluarga juga harus dirawat di rumah sakit karena batuk pilek,” imbuhnya.
Rofiq menjelaskan bahwa penyebab banjir di Kudu disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk pembuangan PDAM, curah hujan tinggi, dan kiriman air dari wilayah Sayung yang mengalami rob. (*)
Editor: Elly Amaliyah





