“Dengan berat hati, kami belum bisa menerima rekan-rekan suporter Persijap di Stadion Sultan Agung,” ujar Thole. Ia meminta agar instruksi ini dipatuhi oleh seluruh elemen suporter demi menjaga kondusivitas wilayah Yogyakarta.
Langkah ini diambil untuk menghindari potensi gesekan yang mungkin timbul akibat membeludaknya massa di luar kapasitas tribun yang tersedia.
Harapan Satu Tribun di Masa Depan
Meski saat ini pintu tribun belum terbuka bagi tim tamu, Brajamusti tetap menyimpan optimisme tinggi. Thole berharap perseteruan masa lalu dapat terkikis habis dan berganti dengan indahnya kebersamaan dalam satu tribun.
Keinginan untuk menyambut dan mendukung bersama suporter Persijap tetap menjadi agenda jangka panjang bagi organisasi mereka.
“Saya berharap kesempatan untuk mendukung satu tribun bersama suporter Persijap bisa terwujud di pertandingan lain,” tandas Thole. Pernyataan ini menjadi sinyal positif bahwa proses perdamaian antar kelompok suporter di Jawa Tengah dan DIY terus berjalan.
Brajamusti mengajak suporter Persijap untuk tetap menjaga semangat persaudaraan meski belum bisa bertemu langsung di stadion. Mereka yakin bahwa pada saat yang tepat, kolaborasi antar suporter ini akan menjadi contoh baik bagi dunia sepak bola Indonesia.
Fokus utama saat ini adalah memastikan setiap pertandingan berjalan lancar tanpa ada pihak yang merasa dirugikan secara keamanan maupun kenyamanan.(*)





