YOGYAKARTA, beritajateng.tv– Momentum perayaan hari jadi ke-21 Brajamusti menjadi ajang penyampaian pesan penting bagi persaudaraan antar suporter. Presiden Brajamusti, Muslich Burhanuddin (Thole).
Secara khusus menyoroti hubungan organisasi mereka dengan suporter Persijap Jepara. Dalam pernyataan resminya, Thole menyampaikan permohonan maaf karena belum bisa mewujudkan agenda silaturahmi fisik dalam waktu dekat.
Keputusan berat ini muncul menjelang laga panas yang melibatkan kedua tim besar tersebut. Thole menjelaskan bahwa faktor teknis di lapangan menjadi kendala utama bagi kedua kelompok pendukung ini untuk bertemu.
Ia mengakui adanya niat baik dari suporter Persijap untuk menyambung tali persaudaraan secara langsung di Yogyakarta. Namun, kondisi saat ini memaksa pengurus pusat Brajamusti untuk menunda rencana pertemuan tersebut demi kebaikan bersama.
Pihak Brajamusti menegaskan bahwa penundaan ini bukan berarti memutus komunikasi dengan pendukung Laskar Kalinyamat. Sebaliknya, Thole sangat menghargai keinginan luhur dari rekan-rekan suporter Persijap.
Ia hanya ingin memastikan bahwa saat pertemuan itu terjadi, suasana sudah benar-benar aman dan nyaman bagi semua pihak. Brajamusti berkomitmen untuk tetap menjaga hubungan baik lewat jalur komunikasi digital hingga situasi memungkinkan.
BACA JUGA: Kronologi Lengkap Kerusuhan Pertandingan Persijap vs Persis : Ricuh dari Dalam hingga Luar Stadion
Kendala Kuota Tiket dan Larangan Fasilitas
Masalah utama yang menghambat pertemuan ini adalah keterbatasan kapasitas di Stadion Sultan Agung (SSA). Berikut adalah poin-poin tegas yang disampaikan oleh pihak Brajamusti:
-
Kuota Terbatas: Jumlah tiket yang tersedia untuk anggota Brajamusti sendiri masih sangat minim.
-
Larangan Memfasilitasi: Thole melarang keras seluruh laskar di bawah naungan Brajamusti untuk mencarikan tiket bagi suporter tamu.
-
Keamanan Stadion: Pembatasan ini bertujuan mencegah membeludaknya penonton yang tidak memegang tiket resmi di area stadion.
-
Prioritas Tuan Rumah: Pengurus ingin memastikan seluruh kuota yang ada benar-benar terisi oleh pendukung PSIM sebagai tuan rumah.
“Dengan berat hati, kami belum bisa menerima rekan-rekan suporter Persijap di Stadion Sultan Agung,” ujar Thole. Ia meminta agar instruksi ini dipatuhi oleh seluruh elemen suporter demi menjaga kondusivitas wilayah Yogyakarta.
Langkah ini diambil untuk menghindari potensi gesekan yang mungkin timbul akibat membeludaknya massa di luar kapasitas tribun yang tersedia.
Harapan Satu Tribun di Masa Depan
Meski saat ini pintu tribun belum terbuka bagi tim tamu, Brajamusti tetap menyimpan optimisme tinggi. Thole berharap perseteruan masa lalu dapat terkikis habis dan berganti dengan indahnya kebersamaan dalam satu tribun.
Keinginan untuk menyambut dan mendukung bersama suporter Persijap tetap menjadi agenda jangka panjang bagi organisasi mereka.
“Saya berharap kesempatan untuk mendukung satu tribun bersama suporter Persijap bisa terwujud di pertandingan lain,” tandas Thole. Pernyataan ini menjadi sinyal positif bahwa proses perdamaian antar kelompok suporter di Jawa Tengah dan DIY terus berjalan.
Brajamusti mengajak suporter Persijap untuk tetap menjaga semangat persaudaraan meski belum bisa bertemu langsung di stadion. Mereka yakin bahwa pada saat yang tepat, kolaborasi antar suporter ini akan menjadi contoh baik bagi dunia sepak bola Indonesia.
Fokus utama saat ini adalah memastikan setiap pertandingan berjalan lancar tanpa ada pihak yang merasa dirugikan secara keamanan maupun kenyamanan.(*)





