SEMARANG, beritajateng.tv – Seolah musim gugur, bunga Tabebuya yang mirip Sakura mulai bermekaran hingga membuat sejumlah lokasi di kota Semarang bernuansa seperti di Jepang.
Salah satunya di Jalan Madukoro Raya atau Banjir Kanal Barat (BKB) Semarang. Pohon-pohon Tabebuya itu berjejer dan bermekaran di awal Oktober menambah kesan serasa benar-benar berasa di Negeri Samurai itu.
Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu menyebut bunga dari pohon Tabebuya ini mulai bermekaran saat masuk musim panas, sehingga kelihatan cantik.
Kecantikan bunga Tabebuya yang berwarna-warni pink, kuning dan putih ini mirip bunga Sakura khas Jepang.
Mbak Ita, sapaan akrab Wali Kota Semarang ini bahkan meminta Dinas Pekerjaan Umum (DPU). Dan Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Semarang untuk mulai melakukan mapping dan klastering.
“Saya minta DPU dan Perkim melakukan mapping dan klastering. Mengevaluasi lagi lokasi mana yang cocok untuk menanam dan perawatan bunga Tabebuya,” ujar Mbak Ita.
Hal ini lantaran, ribuan pohon Tabebuya yang ada di kota Semarang tidak semua bisa bertahan hidup.
“Sebenarnya kan ada beberapa Tabebuya yang sudah kami tanam tapi tidak berhasil. Contohnya di depannya Sampokong sepanjang jalan pamularsih itu kan kami tanam tapi tidak berhasil. Malah banyak yang mati,” katanya.
Meski demikian banyak pula, pohon Tabebuya yang berhasil ia tanam hingga bermekaran di musim kemarau.
“Nah yang berhasil itu kan di depan Balaikota, di jalan Karangayu, dan jalan Madukoro Raya arah Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang. Sehingga kami berharap itu menjadi pemacu untuk kedepannya bisa kami tanam dan memberikan keindahan,” harapnya.
Ia meminta Dinas terkait menata ulang dan melakukan klastering kembali tanaman sehingga saat tiba musim penghujan perawatan tanaman lebih mudah dan tertata.
Bunga Tabebuya Bermekaran
Sekretaris Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Semarang, Murni Ediati, menyampaikan jika penanaman pohon Tabebuya sudah sejak tahun 2016 hingga 2017.
Kata dia, Bunga Tabebuya ini biasa mengembang pada musim kemarau. Sudah kesekian kalinya pohon-pohon itu mekar namun di tahun ini lebih cantik dan segar.
“Jadi banyak kita tanam di ruas jalan protokol dan taman-taman kota,” katanya.
Ia mencontohkan, selain ada di ruas Jalan Pemuda, ada juga yang paling menonjol di sepanjang jalan Banjir Kanal Barat.
“Pohon bunga tabebuya yang di banjir kanal barat ini banyak sumbangan dari CSR berbagai pihak,” katanya.
Tabebuya (Handroanthus chrysotrichus) atau biasa disebut pohon terompet emas adalah sejenis tanaman yang berasal dari negara Brasil dan termasuk jenis pohon besar.
Seringkali tanaman ini dikira sebagai tanaman Sakura oleh kebanyakan orang, karena bila berbunga bentuknya mirip seperti bunga sakura. Namun kedua tanaman ini sebenarnya tidak berkerabat.
Pohon tabebuya memiliki kelebihan di antaranya daunnya tidak mudah rontok. Saat musim berbunga maka bunganya terlihat sangat indah dan lebat, akarnya tidak merusak rumah atau tembok walau berbatang keras.
Setiap spesies pohon tabebuya memiliki warna yang berbeda-beda. Saat ini warna yang banyak dikenal adalah putih, merah muda, kuning, kuning jingga, magenta, plum. Dan ada yang merah dengan panjang 3-11 cm, berbentuk terompet dan bergerombol.
Terdapat motif garis warna ungu di dalam bunganya. Tabebuya pada musim berbunganya mampu menghasilkan jumlah bunga yang sangat banyak. Dan tidak putus sejak awal musim kemarau hingga menjelang musim hujan. (*)
Editor: Elly Amaliyah





