SEMARANG, beritajateng.tv – Dewan Kesenian Semarang (Dekase) menggandeng Yayasan Sahwahita resmi meluncurkan kanal pengaduan bertajuk “Suarakan, Lindungi, Lawan” sebagai upaya menciptakan ruang aman bagi para seniman di Kota Semarang. Peluncuran tersebut dilakukan dalam diskusi bertema Ruang Aman bagi Seniman di Kota Semarang di Gedung Kesenian Ki Narto Sabdo, Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Sabtu, 25 Juli 2026.
Kanal pengaduan ini harapannya menjadi wadah bagi korban kekerasan. Khususnya kekerasan seksual di lingkungan seni, untuk berani melapor sekaligus mendorong terciptanya ekosistem berkesenian yang aman dan inklusif.
Pendamping Hukum Yayasan Sahwahita, Ninik Jumoenita, mengatakan pihaknya menggandeng Dekase karena melihat pentingnya langkah pencegahan di dunia seni.
“Hari ini Yayasan Sahwahita bekerja sama dengan Dewan Kesenian Semarang meluncurkan kanal pengaduan untuk menciptakan ruang aman berkesenian. Yayasan Sahwahita memang fokus pada perlindungan perempuan dan anak di Jawa Tengah,” ujarnya.
Penyalahgunaan Relasi Kuasa Jadi Ancaman
Ninik menjelaskan, salah satu bentuk kekerasan yang paling rawan terjadi di lingkungan kesenian adalah penyalahgunaan relasi kuasa, terutama terhadap seniman muda dan anak-anak.
Berdasarkan pengalaman pendampingan Yayasan Sahwahita dalam tiga tahun terakhir terdapat dua kasus di Kota Semarang yang melibatkan korban berlatar belakang seniman dan berujung pada dampak serius.
“Kasus yang kami dampingi memang pengaduannya masuk di Kota Semarang, kemudian korbannya berlatar belakang seniman. Ada dua kasus dalam tiga tahun terakhir yang akibatnya sudah sangat fatal,” katanya.
BACA JUGA: Dalam 2 Bulan Terungkap 8 Kasus Kekerasan Seksual di Ponpes, DPRD-Pemprov Jateng Dorong Perketat Regulasi
Meski demikian, ia mengakui belum terdapat data khusus mengenai jumlah kasus kekerasan yang menimpa seniman di Kota Semarang. Salah satu penyebabnya diduga karena korban masih memilih diam atau keep silent.
Karena itu, peluncuran kanal pengaduan harapannya dapat mendorong korban untuk berani bersuara. “Upaya launching ini juga untuk mendorong keberanian korban agar berani speak up,” ucapnya.





