Jateng

Co-firing Biomassa PLTU Dinilai Bisa Memperparah Ketimpangan Lahan di Jawa Tengah

×

Co-firing Biomassa PLTU Dinilai Bisa Memperparah Ketimpangan Lahan di Jawa Tengah

Sebarkan artikel ini
Juru Kampanye Bioenergi Trend Asia, Bayu Maulana Putr
Juru Kampanye Bioenergi Trend Asia, Bayu Maulana Putra usai diskusi lingkungan energi hijau di Kota Lama Semarang. Minggu, 17 Mei 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

Tak hanya dari sisi pembakaran, Trend Asia juga menyoroti dampak di sektor hulu. Khususnya pengembangan Hutan Tanaman Energi (HTE) sebagai pemasok biomassa. Menurut Bayu, ekspansi HTE berpotensi memicu deforestasi hingga konflik agraria karena banyak lahan masyarakat teralihkan menjadi kawasan tanaman energi.

“Banyak lahan yang sebelumnya menjadi ruang penghidupan masyarakat justru di – alihkan untuk HTE. Ini memperpanjang krisis, bukan menyelesaikannya,” tegasnya.

Bayu mengungkapkan, secara nasional potensi deforestasi akibat pengembangan biomassa dapat mencapai sekitar satu juta hektare lahan hutan yang teralihkan menjadi HTE.

“Kalau deforestasi, bukan hanya merusak ekosistem, tapi juga menjadi ruang penghidupan masyarakat. Kalau di luar Jawa mungkin kehidupan masyarakat adat juga sangat bergantung terhadap ekosistem alam yang eksisting,” katanya.

Khusus di Pulau Jawa, luas HTE disebut telah mencapai hampir 59 ribu hektare. Selain untuk kebutuhan PLTU co-firing, hasil HTE juga dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga biomassa (PLTBM) serta pasar ekspor.

Pengembangan HTE

Bayu menyebut, berdasarkan hasil riset Trend Asia, pengembangan HTE berdampak langsung terhadap masyarakat sekitar karena lahan yang terklaim sebagai lahan kosong atau kritis ternyata selama ini menjadi ruang hidup warga.

“Kami menemukan justru lahan-lahan yang HTE kembangkan adalah lahan-lahan yang selama ini menjadi ruang penghidupan masyarakat. Ketika pengembangan implementasi HTE itu, ya mereka harus tersingkir dari lahan penghidupannya,” ujarnya.

BACA JUGA: Berikut Aktivitas di Wisata Pantai Ujung Negoro Batang, Lengkap dengan Harga Tiket

Ia menilai kondisi tersebut berpotensi memperparah ketimpangan penguasaan lahan di Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah.

“Alih fungsi lahan ini bukan hanya soal energi, tapi juga soal ketimpangan dan hilangnya akses masyarakat terhadap sumber kehidupan,” katanya.

Selain persoalan lahan, Bayu juga menyoroti dampak emisi dan limbah pembakaran dari PLTU co-firing. Termasuk Fly Ash Bottom Ash (FABA) yang tetap dihasilkan.

“Emisi tetap ada, hanya bergeser dari sektor pembangkit ke sektor hulu seperti kehutanan,” ujarnya.