Karena itu, ia meminta pemerintah tidak menjadikan co-firing sebagai alasan memperpanjang usia operasional PLTU batu bara.
“Jangan sampai co-firing ini justru memperpanjang umur PLTU dan menunda transisi energi yang lebih bersih,” pungkasnya.
Sementara itu, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah mencatat capaian bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) di wilayahnya hingga 2025 telah mencapai 22,33 persen atau melampaui target Rencana Umum Energi Daerah (RUED) sebesar 21,3 persen.
BACA JUGA: Berikut Aktivitas di Wisata Pantai Ujung Negoro Batang, Lengkap dengan Harga Tiket
Staff Bidang EBTKE Dinas ESDM Jateng, Muhammad Galih Swastandhi, mengatakan pemerintah daerah saat ini tengah mengkaji ulang kebutuhan pasokan dan permintaan energi hingga 2060 menyesuaikan Kebijakan Energi Nasional (KEN) terbaru melalui PP Nomor 40 Tahun 2025.
“Di tahun 2025 kami telah menghitung capaian bauran EBT di Jawa Tengah. Itu sudah sebesar 22,33 persen,” kata Galih usai acara diskusi.
Ia menjelaskan, pengembangan energi bersih di tingkat desa juga terus terdorong melalui pembentukan Desa Mandiri Energi (DME). Hingga kini tercatat ada sekitar 2.331 DME di Jawa Tengah yang memanfaatkan potensi energi lokal.
“Di Jawa Tengah sebenarnya sudah ada sekitar 2.331 Desa Mandiri Energi yang mana artinya desa tersebut sudah mulai bergerak memanfaatkan EBT dengan potensi lokal,” jelasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





